Valentine in march 15th
Ia menatap lirih kearah kalender meja yang berada diatas meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Selalu saja seperti ini. Sesak dan pengab. Kenapa? Batinnya sarkatis.
Ia membuang nafasnya kasar. Tidak. Tidak ada yang berubah. Tetap saja terasa sesak. Seperti ada beribu-ribu batu yang menghimpit dadanya. Tidak memberikan sedikit pun udara untuk masuk dan mengisi paru-parunya.
Disambarnya kalender meja itu. Tatapan matanya nanar saat melihat tanggal hari ini. Ya tuhan. Serunya dalam hati menjerit.
Shasa benci hari ini. Ia benci. Sangat benci. Ia selalu merasa seperti ini bila tanggal ini sedang menjalankan tugasnya. Tidak bisa kah tanggal ini menghilang saja. Menghilang dan tidak akan muncul lagi. Dan yang pasti tidak membuatnya seperti akan mati kehabisan nafas seperti ini.
Bulir-bulir air mata itu akhirnya runtuh juga. Menjebol pertahannya yang sudah dibuatnya. Kenapa harus seperti ini?.
Shasa benci tanggal ini. Ia membenci tanggal 14 februari. Terlalu banyak kenangan buruk ditanggal ini. Dan sekali lagi Shasa benci itu. Benci dengan tanggal hari ini. Karena pada saat tanggal ini. Semua orang yang disayangi pergi menjauh darinya. Pergi meninggalkannya sendiri. Pergi jauh dan tidak akan pernah kembali.
Di lemparnya begitu saja kalender yang ada di tangannya itu. Ia jatuh terduduk. Menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Membiarkan kelanjar-kelanjar hangat yang diciptakan oleh matanya itu turun dengan derasnya.
Sebenarnya Shasa tidak ingin seperti ini. Tidak ingin mengenang orang itu dengan air mata. Ia tidak ingin mendapat tatapan kasihan dari orang itu. Walaupun orang itu sudah tidak ada lagi. Tidak ingin dan tidak mau. Tapi apa daya? Air matanya selalu saja turun saat kelebatan-kelebatan hitam itu sedang berputar di dalam kepalanya.
Saat kecelakaan hebat itu terjadi tepat di depan matanya sendiri. Membuat seseorang yang benar-benar disayanginya pergi meninggalkan dunia ini. Pergi jauh bersama para malaikat langit. Pergi meninggalkan Shasa sendiri. Sendiri.
Suara isakan tangis Shasa terdengar sangat pilu. Menyayat hati bila ada yang mendengar. Kesedihan ini selalu membuat Shasa terkurung di dalamnya. Seperti tidak memberikan Shasa ijin untuk keluar.
Diusapnya wajahnya dengar kasar. Shasa ingin bangkit. Tidak ingin rapuh seperti ini. Tidak ingin menjadi mayat hidup sesaat seperti ini. Shasa harus bangkit.
Shasa tersentak kaget saat pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Shasa hafal siapa yang mengetuk pintu kamarnya pagi-pagi seperti ini.
“shasa sudah bangun belum sayang?” Tanya orang yang berdiri di depan pintu kamar Shasa. “kalau sudah bangun. Cepat mandi ya. Papa sudah siapin sarapan tuh. Hari ini kita ada janji dengan seseorang kan. Shasa dengar kata papa kan?” lanjutnya.
Tidak mendapat jawaban satu pun dari sang pemilik kamar. Orang itu hanya berdeham kecil. Ia tahu pasti putrinya itu sudah terbangun dari tidurnya. Hanya saja, pasti ada yang sedang dilakukannya di dalam sana. Dan ia pun tahu apa yang sedang dilakukan putri tunggalnya itu.
“ya sudah. Papa siap-siap dulu”
Shasa bisa mendengar derap langkah papa nya yang melangkah pergi dari depan pintu kamarnya. Shasa bisa mendengar semua ucapan papanya. Tapi, untuk menjawab sepatah kata pun. Tenggorokannya seperti enggan untuk mengeluarkan suara. Dan sejak tadi pun Shasa menahan nafasnya. Agar papanya itu tidak tahu kalau ia sedang menangis.
“maafin Shasa pa. Shasa janji mulai hari ini, shasa nggak akan menangisi Danny lagi. Shasa janji. Tapi cukup hari ini beri shasa kesempatan untuk membuang air mata kesedihan ini” ucapnya pelan dan lirih.
Shasa berdiri dari duduknya. Menyeret kakinya untuk masuk kedalam kamar mandi. Dan tepat di depan pintu kamar mandi. Mata Shasa tidak sengaja menyambar beberapa bingkai foto yang tersusun rapi di atas meja kecil.
Shasa menatapnya nanar. Foto-foto ini terlalu menyimpan banyak kenangan.
Diurungkannya niatnya untuk masuk ke kamar mandi. Shasa berjalan kearah bingkai-bingkai foto itu. Mengambil satu. Lalu jari-jari panjang miliknya itu. Mengusap lembut wajah salah seorang yang ada di dalam bingkai foto yang sedang dipegangnya.
Sebuah senyum kecil tercipta di bibir Shasa. Wajah ini. Wajah orang ini. Seseorang yang selalu bisa menciptakan senyuman manis milik Shasa. Seseorang yang punya banyak bahkan beribu cara untuk membuat Shasa tertawa.
Sosok jangkung dengan kacamata berbingkai coklat yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Sosok yang ada disaat hari-hari terburuk yang ada di hidup Shasa. Saat kedua orang tuanya memilih untuk saling menjalankan kehidupan masing-masing. Tidak lagi bersama dalam ikatan suami istri. Lebih memilih keegoisan dalam diri mereka.
Air mata itu jatuh lagi. Shasa mengusapnya. Tidak boleh. Ia tidak boleh menangis. Danny pasti akan menceramahinya bila melihat air mata ini.
Shasa mencium wajah Danny dalam foto ini. Mulai hari ini. Shasa harus menjalankan kehidupan baru. Membuka lembaran-lembaran baru. Dan menulisi lembaran-lembaran itu dengan tinta baru. Dan sebisa mungkin mengenang Danny dalam hatinya. Dan Shasa tidak mau lagi berada di dalam kukungan kesedihan ini. Ia harus bangkit. Dan harus bisa.
“happy anniversary sayang” ucap Shasa lembut dan menaruh bingkai foto itu. Lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Memutar shower dan mengguyurkan air ke sekujur tubuhnya. Berharap rasa sesak dan semua kesedihan ini ikut larut dan pergi jauh dari dalam dirinya.
14 februari. Semua orang tahu dengan tanggal ini. Dan semua orang yang sedang dimabuk asmara pun sangat hafal dengan tanggal ini. Hari kasih sayang. Valentine’s day.
Hari dimana para pria memberikan kejutan kepada wanitanya. Hari dimana, disetiap pusat perbelanjaan dan segala tempat hiburan dan rekreasi berubah menjadi berwarna pink karena pernak-pernik yang dipasang oleh sang empunya. Hari dimana coklat-coklat yang manis dan berbagai bentuk serta rupa bertebaran dimana-mana. Dibagikan dengan gratis.
Hari dimana kasih sayang tumpah ruah begitu saja. Menguap diudara dan mengisi relung-relung hati para pemabuk asmara.
Tapi tidak untuk Shasa. 14 February adalah hari sial untuknya. Dan tanggal hitam yang sudah terukir hebat di notes hidupnya. Berada pada urutan pertama dalam black list tanggal sial miliknya.
Tepat lima tahun lalu. Di tanggal ini. Ditanggal dimana diyakini oleh sebagian orang sebagai hari mencurahkan kasih sayang. Kedua orang tua Shasa memilih untuk berpisah. Menjalankan kehidupan masing-masing. Tidak bersama lagi. Lebih memilih menjalankan keegoisan dalam diri mereka. Yang tanpa mereka sadari sudah membuat seorang gadis berumur 14 tahun hidup tanpa kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.
Dan di tanggal ini pun. Tepat empat tahun lalu. Kekasih pertama Shasa meninggal dalam kecelakaan maut yang sudah direncakan oleh kekasih baru mamanya. Orang yang sudah membuat mamanya menghilangkan semua rasa cinta kepada papanya. Orang yang sangat dibenci Shasa.
Danny.
Seseorang yang sangat berarti dalam hidup Shasa. Seseorang yang sudah mengembalikan lagi senyumannya dari keterpurukan perpisahan orang tuanya. Seseorang yang sanagt baik. Yang seharusnya tidak menerima takdir menyedihkan seperti ini.
14 February pun merupakan tanggal anniversary Shasa dengan Danny.
Dan sejak saat itu. Shasa sangat membenci tanggal 14 February. Hanya sebuah tanggal terkutuk yang bisa membuatnya seperti mayat hidup kehabisan nafas karena harus jatuh kembali kedalam kenangan-kenangan buruk yang ada.
****
“pagi papa” Shasa mencium pipi papanya. Menggelayut manja kepada papanya. Papanya menyodorkan sepotong roti tawar ke depan mulut Shasa. Membuat Shasa harus menelannya.
“pagi. Lama amat mandinya. Mompa air dulu?” Tanya papanya sambil terkekeh.
“iya, mana pompanya jauh loh pa. caca harus ngesot dulu kesananya” balas Shasa ikut bercanda. Caca. Panggilan kecil dari papanya.
Tawa papanya pecah. Ada-ada saja. “ih anak papa mau ngegantiin suster ngesot ya?” tebak papanya usil
Shasa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mulutnya penuh dengan nasi.
“hari ini kita jadi pergi kan?” Tanya papanya.
Raut wajah Shasa berubah. Diteguknya susu coklat hangat buatan papanya. “emang papa nggak ada janji sama orang gitu? Shasa bisa pergi sendiri kok”
“nggak ada. Papa sudah cancel semua schedule yang ada hari ini. Dan hari ini papa free” ucap papanya seraya menyesap kopi.
“ceileh bahasanya. Schedule” kata Shasa menggoda.
“sudah ah bercanda terus. Cepat habisin makannya. Hari ini caca kan yang giliran cuci piring” ucap papanya. Mendengar ucapan papanya, Shasa cepat-cepat menghabiskan sarapannya. Meneguk susu coklatnya hingga tuntas. Lalu membawa piring bekas makannya dan gelas kopi papanya. Mencucinya. Dan bersiap pergi ke kampus.
“belajar yang bener” pesan papanya.
Shasa lalu turun dari mobil dan berjalan berputar ke sebelah kanan. Menghampiri papanya. “hari ini papa mau kemana?” Tanya Shasa. Masa iya seharian ini papanya Cuma mau menunggui dirinya selesai kuliah.
Papa Shasa mengedipkan sebelah matanya. Membuat Shasa menggebungkan kedua pipinya. Ia tau kalau papanya sudah mengedipkan mata seperti itu. Artinya papanya tidak mau memberitahunya.
“papa pelit” ucap Shasa seperti bocah berumur lima tahun.
“biarin” papa Shasa menjulurkan lidahnya. “kalau sudah waktunya pulang telpon papa”
Shasa menganggukkan kepalanya. “caca kuliah dulu pa” pamit Shasa seraya mencium telapak tangan papanya.
“shasa” seru seseorang. Membuat Shasa memutar kepalanya. Menegok ke kanan dan ke kiri mencari asal suara itu.
“hai steve” sapa papa Shasa ke orang yang sedang berjalan satu meter di belakang Shasa.
“hai om. Pagi” balas Steve disertai dengan senyum.
Shasa mengerutkan keningnya. Kok bisa Steve datang dari belakangnya?
“ya udah kuliah sana. Titip Shasa ya steve” pesan papa Shasa. Steve menganggukkan kepalanya. Lalu setelah itu mobil milik papa Shasa melesat pergi.
“yuk” Steve menggandeng tangan Shasa.
“eh” Shasa tersadar dari lamunannya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Loh loh kok sudah masuk ke kampus “papa gue mana?” Tanya Shasa bingung. Perasaan tadi ia masih berdiri di sebelah papanya.
Steve menggelengkan kepalanya. Kebiasaan pasti melamun. “ya sudah pergi lah. Masa iya mau nemenin lo dikampus”
“apa nih gandeng-gandeng?” Shasa melepas gandengan tangan Steve. Steve cemberut. “Shasa pelit” ucap Steve seperti anak kecil.
“ga ngaruh” Shasa menjulurkan lidahnya. Apa-apaan steve ini? Nanti Shasa bisa di amuk sama cewek satu kampus lagi. Karena melihat dirinya bergandengan tangan dengan Steve. Maklum Steve kan jejaka tampan di kampusnya.
“shasa mah” steve pura-pura ngambek
Shasa dan Steve adalah dua pasang sahabat. Sebenarnya Steve itu sahabat Danny. Tetapi setelah Danny tidak ada. Steve jadi sering bersama Shasa. Steve juga sudah di titipi pesan oleh Danny untuk menjaga Shasa, bila suatu hari nanti Danny pergi. Dan sekarang waktunya lah.
“eit stop” Shasa berdiri di tengah-tengah pintu kelas. Merentangkan kedua tangannya menghalangi Steve. Di depannya Steve berdiri masih dengan bibirnya yang cemberut.
Shasa menjulurkan tangannya yang menengadah ke atas di depan wajah Steve. Sambil menyungging kan senyumnya yang paling manis. Shasa berseru. “coklat steve. Coklat”
Steve mengangkat alisnya satu. Apa tadi? Coklat? Nggak salah dengar nih.
“apaan?” Tanya Steve bingung.
“coklat steve. Coklat. C-o-k-l-a-t” shasa mengeja hurufnya.
Steve menggelengkan kepalanya. Lalu menggeser tubuh Shasa dan melenggang masuk ke dalam kelas. Sementara Shasa berdiri di depan pintu dengan tampang cengo. Steve? Errrrrr awas aja. Batin Shasa
“steve lo nggak sayang sama gue? Oke kalau gitu” cerca Shasa sambil menggebrak meja Steve.
Sekali lagi steve menaikkan alisnya. Kenapa lagi nih? PMS? Sementara yang lain hanya memandang mereka berdua bingung.
“steve” Shasa hampir berteriak.
“apa?” Tanya Steve acuh. Shasa menggeretakkan giginya. Benar-benar ya makhluk jelek satu ini.
“coklat steve” pinta Shasa.
“minta aja sana sama Danny” ucap Steve tanpa sadar.
Jdeerrr. Nama ini.
Wajah Shasa menegang. Urat-urat wajahnya menyembul keluar. Tatapan matanya berubah kosong dan hampa. Urat di kedua telapak tangan Shasa juga ikut menyembul keluar akibat cengkraman tangannya terlalu kuat. Nafasnya tercekat. Telinganya berdengung hebat. Apa tadi? Danny
Astaga. Steve menepuk keningnya. Ia lupa. Kenapa bisa keluar kata-kata itu.
Shasa mundur perlahan. Menghembuskan nafasnya secara kasar. Baru saja. Iya baru saja. Rasa sesak itu kembali menyerang dadanya. Tidak sampai hitungan menit. Menyerbunya dengan bertubi-tubi rasa sakit. Membentuk sebuah koloni dahsyat yang menghantam dadanya.
Shasa berjalan ke bangkunya yang berada tepat di belakang bangku Steve. Berjalan terseok-seok dengan tatapan mata lesu.
Kenapa? Kenapa steve mengatakan hal itu? Lupa kah dia? Atau dia memang sengaja.
Lagi. Steve kembali menepuk keningnya. Bodoh. Rutuknya dalam hati. Gimana ini?
“shasa maaf. Maaf maaf. Sha” ucap Steve tulus.
Shasa menggelengkan kepalanya. Menunduk lalu melipat kedua tangannya di atas meja. Menaruh kepalanya di sana. Bersembunyi. Ya bersembunyi dari rasa sesak ini. Ya Tuhan. Tolong. Jangan. Batin Shasa.
Steve berdiri lalu duduk di sebelah Shasa. Mengelus-elus punggung Shasa. Ia salah. Iya. Steve salah.
****
“maaf Sha” ucap Steve benar-benar merasa bersalah. Mata shasa sembab. Menangis di pagi hari tadi. Membuat kepalanya menjadi pusing sekarang. Dan sekarang Shasa dan Steve ada di ruang kesehatan.
“nggak papa” balas Shasa dengan suara parau. Steve jadi tidak tega. Ia berjalan kearah Shasa yang sedang duduk dengan kedua lutut yang ditekuknya ke atas.
Steve merengkuh Shasa. Mendekapnya. Memberikan ruang untuk Shasa menumpahkan kesedihannya. Sebagai sahabat. Tempat yang paling tenang. Steve tahu Shasa membutuhkan seseorang sekarang. Seseorang yang siap berada di sisinya.
Air mata Shasa kembali menyeruak. Kenapa? Kenapa rasa sesak itu kembali menghimpitnya. Kembali menyerbunya secara tiba-tiba seperti ini. Kenapa pula, bayangan-bayangan hitam kecelakaan Danny itu berputar lagi di kepalanya. Berputar secara cepat. Silih berganti satu sama lain. Seperti kaset yang diputar berulang-ulang.
Seperti ada kurcaci-kurcaci kecil pembawa tombak yang menusuk-nusuk dadanya. Menciptakan rasa sakit dan sesak yang begitu dalam. Apa Tuhan tidak mengizinkan Shasa untuk lepas dari bayang-bayang Danny? Apa ia harus selalu seperti ini jika mendengar seseorang menyebutkan nama Danny? Apa Shasa harus menjadi kembali seperti mayat hidup kehabisan nafas? Apa semua itu harus ditanggungnya secara terus menerus.?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya. Di telinganya berdengung suara-suara yang menyerukan nama Danny. Cukup. Cukup sudah. Shasa tersiksa dengan semua ini.
Steve bisa merasakan tekanan batin Shasa. Terdengar begitu pilu suara isak tangis Shasa ini. Apakah efek ucapannya tadi membuat Shasa kembali terguncang?
“when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable must be truth” seru seseorang yang berdiri di depan pintu dengan baki berisi satu gelas teh.
Steve mendongakkan kepalanya. Melihat siapa yang baru saja berbicara.
Saka
Saka berjalan, derap langkahnya tenang dan penuh keyakinan.Ia menyunggingkan senyum ramah dan hangat ke Steve.
Steve melepas pelukannya. Menghapus air mata Shasa dengan sapu tangan miliknya. Mengangkat dagu Shasa, lalu tersenyum dan mengarahkan dagunya kearah Saka.
Shasa menatap Saka dengan mata yang masih dipenuhi kabut tebal. Sisa air matanya yang belum tuntas berakhir. Saka tersenyum. Seperti ini ternyata wujud asli Shasa sebenarnya. Terlihat begitu rapuh. Berbeda dengan Shasa yang ceria dan sering jutek kepadannya.
“kalau kau mau mengejek ku sekarang. Ejek saja. Tidak usah menyunggingkan senyum penuh misterius seperti itu” ucap Shasa jutek. Ia menjauh dari Steve. Mengambil tissue di dalam tasnya. Lalu mengusap wajahnya secara brutal.
Steve mengulum senyum. Bagus Shasa sudah kembali menjadi Shasa yang jutek ke Saka.
“siapa juga yang mau ngejek mu” Saka terkekeh “aku cuma mau bawain ini” Saka menyerahkan baki dengan segelas teh hangat itu ke Steve. “baikan” ucapnya seraya menaik turunkan alisnya.
Shasa menggerutu tidak jelas. Mencibir Saka. “sok baik”
Saka mengernyitkan keningnya. Apa tadi?
“apa Sha?” tanyanya
Shasa menyodorkan gelas kosong, yang isinya langsung di teguk habis. “nggak papa. Nggak penting” sahut Shasa jutek.
Saka menyunggingkan senyum jahil “kau itu, lagi dalam keadaan jelek gini. Masih aja jutek pada ku. Nggak bilang makasih lagi” cerocos Saka seraya duduk di ranjang ruang kesehatan.
Shasa mendelik ke Saka. Bukannya membuat Saka takut. Malah membuatnya tertawa terbahak-bahak. “mata panda mu itu sudah kelewat besar. Tidak usah melotot-melotot seperti itu. Tambah jelek” ejek Saka.
Dilemparnya salah satu buku miliknya. “terserah mu” balas Shasa malas-malasan.
Shasa dan Saka memang sering berbicara dengan bahasa baku seperti itu. Entahlah karena apa. Tetapi. Bila salah satu dari mereka berbicara dalam bahasa baku. Maka lawan bicaranya aku membalas dengan bahasa baku pula.
“sudah sudah. Balik ke kelas yuk” ajak Steve.
Shasa memalingkan wajahnya, menatap Steve bingung. Sementara Saka masih berusaha untuk menghentikan tawanya.
“lo nggak kasihan sama gue Steve. Muka gue masih jelek ini” seru Shasa tidak setuju. Steve mengibas-ibaskan tangannya.
“ya nggak. Lo ke toilet dulu, cuci muka”
“biar aja muka jelek lo itu. Lebih bagus gini” samber Saka masih saja mengejek Shasa.
“nggak lucu” jawab Shasa sinis.
“sudah sudah. Yuk Sha” steve menengahi. Bisa-bisa dua orang ini perang mulut.
“yuk” Shasa turun dari ranjang. Menyambar tasnya. Lalu mengikuti Steve keluar ruang kesehatan. Meninggalkan Saka begitu saja.
Belum sempat langkah kaki mereka berdua keluar dari ruang kesehatan. Suara Saka kembali berseru. “sha, gue nggak tau siapa itu Danny. Yang gue tau dia itu almarhum cowok lo. Dan gue juga nggak tau betapa berartinya dia untuk lo. Tapi…” Saka jeda sejenak. Memutar tubuhnya dan ingin melihat reaksi Shasa.
Benar dugaannya. Shasa berhenti melangkah. Menegakkan tubuhnya. Terlihat kembali terguncang.
“tapi satu hal saja. Gue Cuma mau ngasih tau lo. Kalau Danny itu adalah seseorang yang berharga untuk lo. Dia cukup di kenang. Dia pasti nggak mau kalau selalu lo tangisin seperti ini. Dia pasti ingin liat senyum lo. Bukan air mata lo. Dan jangan lupakan dia. Kalau dia itu adalah kenangan yang berarti, jangan dilupakan. Sebab, jika manusia mati. Mereka hanya bisa hidup dalam kenangan orang lain” ucap Saka panjang lebar.
Saka turun dari ranjang. Melangkah mendekati Shasa. Berdiri di depannya lalu mengangkat wajah Shasa yang tertunduk. “senyum. Tersenyum untuk dia. Karena senyum lo itu adalah suatu kebahagian tersendiri untuk dia. Dan jangan nangis lagi Sha” Saka mengusap kedua pelupuk mata Shasa dengan telunjuknya. Mata Shasa yang sekarang sudah siap akan menumpahkan berliter-liter air mata.
“senyum” ucap Saka seraya menyungging senyum termanis miliknya. Setelah itu Saka melenggang pergi meninggalkan Shasa dan Steve yang terdiam terpaku.
Steve menggelengkan kepalanya tidak percaya. Saka. Seorang Saka. Yang setiap harinya pecicilan tidak jelas. Bergerak kesana kemari tidak bisa diam seperti cacing kepanasan. Baru saja mengatakan hal seperti itu. Ajaib. Seru Steve dalam hati.
“yuk steve” Shasa menarik tangan Steve.
Steve memandang Shasa bingung. Tidak ada reaksi apa-apa. Astaga ada apa sebenarnya dengan Shasa? Padahal ucapan Saka tadi begitu dahsyat bagi Steve.
“gue ngerti ka. Terima kasih” gumam Shasa
****
“terima kasih pak” shasa menganggukkan kepalanya,tersenyum kecil. Dan berbalik, agak sedikit menunduk saat keluar kios bunga ini. Berjalan menuju papanya yang sedang berdiri di samping mobil mereka.
Shasa baru saja membeli dua buket bunga. Ya tentu saja untuk Danny. Tepat. Hari ini rencana Shasa dan papanya adalah berziarah ke makam Danny.
“sudah?” Tanya papanya.
Shasa kembali mengangguk. “ayo”
Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam pemakaman. Hawa-hawa khas pemakaman menyerbu Shasa. Selalu seperti ini. Sama seperti empat tahun lalu.
Shasa melirik ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan makam-makam yang ada. Kebanyakan dari makam-makam ini sudah agak tidak terurus. Banyak daun-daun kering disekitarnya. Tetapi ada juga yang terawat dengan rapi. Dengan taburan bungan mawar, melati dan daun pandan diatasnya.
Shasa bergidik ngeri saat matanya tidak sengaja melihat makam yang benar-benar tidak terurus. Kotor. Banyak daun-daun kering yang bertumpuk di makam itu. Bagaimana bila itu adalah makamnya? Tidak terurus seperti itu. Hiiii
“kenapa ca?” Tanya papanya.
Shasa menggelengkan kepalanya. Mereka berdua kembali melanjutkan berjalan menuju makam Danny.
Dua ratus meter di depan mereka. Disana tempat danny tertidur dengan tenang. Kembali bayang-bayang saat prosesi pemakaman Danny saat itu berputar di benak Shasa. Adegan demi adegan bergerak, berputar satu persatu. Melihatkan bagaimana terpuruknya Shasa saat itu.
Benar-benar mengenaskan. Shasa yang saat itu meraung hebat di atas makam Danny. Terguncang akan kepergian Danny yang begitu mendadak.
“sha” tegur papanya.
“ya?” Shasa memalingkan wajahnya. Menatap papanya.
“sudah sampe. Jangan melamun terus” ingat papanya.
Ah sudah sampai ternyata. Shasa berjongkok, mengelus pusara makam Danny. Mengelusnya. Membayangkan bila itu benar-benar wajah Danny.
Papa Shasa juga ikut berjongkok. Beliau memunguti daun-daun kering yang ada. Lalu menaburkan serangkaian bunga mawar, melati, dan daun pandan yang dibawanya. Setelah itu menyiramkan air.
Mata Shasa kembali berkabut. Kembali bersiap akan menumpahkan air mata. Tidak boleh. Jangan sampai jatuh lagi ini air mata. Diusapnya air mata diujung pelupuk matanya itu.
Shasa menaruh serangkai melati di atas pusara Danny. Lalu menaruh lili putih, bunga kesukaan Danny.
Mereka berdua sama-sama memanjatkan doa untuk Danny. Memberikan lantunan-lantunan doa khusyuk. Berharap Danny mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya.
“papa ke makam nenek ya. Shasa kalau mau cerita. Cerita aja. Papa tunggu di mobil” pamit papanya dan beranjak pergi.
Shasa kembali mengelus pusara Danny. “danny” sapanya dengan suara serak. Tahan Sha. Batinnya
Digelengkan kepalanya. “apa kabar? Pasti baik kan. Iya dong kan pacar Shasa” Shasa berbicara sendiri. Walaupun tidak ada yang menyahut. Shasa melanjutkan lagi ceritanya.
“nggak kerasa sudah empat tahun ya Dan. Kamu nggak kangen sama aku? Ah pasti disana kamu sudah punya teman yang baik ya. Makanya jarang menemui ku lagi. Gimana Dan disana? Ceweknya cantik-cantik ya? Ga bawel kayak aku” Shasa meracau sendiri.
Biarlah. Ini terakhir ia seperti ini. Bercerita panjang lebar tidak karuan. Toh Shasa sudah bertekat tidak akan membiarkan dirinya berada di dalam kukungan-kukungan kesedihan hanya karena mengingat Danny.
“Dan kamu tahu. Empat tahun ini aku belum bisa melepas mu. Aku tidak bisa mengikhlaskan kamu pergi. Aku belum siap dengan semua ini. Jadi jangan salahkan aku bila aku masih sering menangis bila ingat kamu. Itu semua diluar kendali ku.”
Shasa menarik udara disekitarnya. Memberikan paru-parunya udara.
“danny aku kangen kamu. Sangat-sangat kangen. Kamu nggak kangen aku” teriak Shasa lepas kendali. Air matanya itu jatuh lagi. “aku kangen kamu Dan” lirih Shasa.
“jangan menangis. Dia nggak akan suka” suara Saka tiba-tiba saja mengema di telinga Shasa.
Ah ya. Shasa ingat. Tidak boleh menangis. Jangan menangis.
Dengan susah payah Shasa menghentikan tangisnya. Tidak boleh menangis.
“maaf Dan” seru shasa sesegukkan.
“aku tau disana kamu sekarang pasti sedang berdiri sambil berkacak pinggang, melototi ku. Ya ya aku tau aku ini cengeng. Tapi setelah ini. Aku tidak akan menangis lagi. Aku janji”
“seseorang ada yang berkata seperti ini ke aku. Kalau dia itu adalah kenangan yang berarti, jangan dilupakan. Sebab, jika manusia mati. Mereka hanya bisa hidup dalam kenangan orang lain. Kamu tahu artinya?” Tanya Shasa.
“aku beri tau. Mulai sekarang. Detik ini aku berjanji ke kamu Dan. Aku tidak akan menangis lagi. Aku tau kalau ini susah. Tapi aku akan mencobanya. Karena aku tau. Tidak selamanya aku harus berada dalam kukungan ini. Aku harus keluar”
Selesai berkata seperti itu. Shasa hanya berdiam diri dan mengelus-elus pusara Danny. Apa tepat pilihan yang sudah di ambilnya? Tapi bila ia tetap bertahan di dalam kukungan-kukungan kesedihan itu. Shasa akan selalu terpuruk. Jatuh terperosok ke dalam lubang-lubang hitam.
Ah membayangkannya saja sudah mengerikan. Ya Shasa harus bangkit. Harus bisa. Dan semua itu harus terwujud. Masih banyak hal lain yang harus dikerjakan olehnya. Setumpuk cita-cita yang belum sama sekali terjamah oleh tangannya. Belum sempat terlaksana karena terkepurukan ini.
Detik ini. Menit ini. Di depan pusara Danny. Shasa berjanji. Ya berjanji untuk kembali bangkit. Menjalani kehidupannya yang masih panjang. Tersenyum untuk Danny. Bukan menangis, menghasilkan berliter-liter air mata. Come on we must move on. Right?
“happy anniversary sayang. Mulai hari ini. Aku akan selalu berusaha untuk memberikan mu senyuman terbaik milik ku” Shasa mencium pusara Danny. Lalu bangkit berdiri. Menatapnya sebentar. Mengangguk kecil. Menghirup udara disekelilingnya. Ya sekarang waktunya.
“bye Dan” seru Shasa dalam hati.
Dilangkahkan kakinya meninggalkan makam Danny. Jangan menoleh, batin Shasa berkali-kali. Ya jangan menoleh. Bila Shasa memalingkan wajahnya kembali kebelakang. Ia tidak akan benar-benar sanggup untuk memantapkan pilihannya.
****
“Sha” seru Saka.
Shasa menghentikan langkahnya. Menoleh kebelakang. Melihat Saka yang sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Shasa mengerutkan keningnya. Kenapa lagi ini makhluk jelek kedua setelah Steve, senyum-senyum tidak jelas seperti itu.
Pasti ada maunya, batin Shasa
“pagi” sapa Saka, senyumnya masih bertengger di sana. Manis.
“ya pagi” balas Shasa dan melnjutkan langkahnya kembali. Saka mengikuti Shasa dari belakang. Berusaha menjajari langkah Shasa. “Cepet banget sih”, gerutu Saka dalam hati.
“tunggu Sha” Saka menarik tangan Shasa. Membuat Shasa tersentak kaget.
Shasa mendelik ke Saka. Kebiasaannya bila Saka sudah mulai mengganggunya. “apa?” ketus Shasa.
Saka memamerkan giginya. Melepaskan tangan Shasa, lalu menggaruk belakang kepalanya. “jalannya jangan cepet-cepat dong. Pelan-pelan aja. Sama-sama”
Shasa cengo. Apaan ini. Dasar Saka sableng.
“suka-suka” kembali Shasa melanjutkan langkah kakinya. Kali ini melangkah lebih cepat. Meninggalkan Saka yang sedang menggerutu tidak jelas.
“aku kemarin melihat mu menangis di pemakaman” seru Saka tiba-tiba. Dan yak Shasa langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang, berjalan cepat kearah Saka yang berdiri sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
“apa kau bilang?” Tanya Shasa
“aku melihat mu menangis di pemakaman kemarin sore” ulang Saka tenang. Mata Saka berkilat jahil. Sekarang di depannya. Shasa mendelik hebat. Membuat matanya itu seperti akan keluar dari tempatnya.
“kau mengikuti ku?” Tanya Shasa penuh selidik.
Saka menggeleng “tidak. Untuk apa aku mengikuti mu? Seperti tidak ada kegiatan lain saja” setelah itu Saka berjalan meninggalkan Shasa.
Rrrrrr Shasa menggertakan giginya. Kenapa makhluk jelek ini bisa tau kalau kemarin ia menangis di pemakaman? Menguntitkah? Atau apa? Dasar makhluk menyebalkan.
“Saka” teriak Shasa mengikuti langkah Saka.
Didepan ini, Saka terkikik geli. Asik, batinnya senang. Saka berlari masuk kedalam kelasnya. Meninggalkan Shasa yang mencak-mencak sambil berteriak geram. Menjahili Shasa itu memang mengasyikkan. Melihat mata sipitnya yang dibelo-belokan seperti itu. Membuat Shasa terlihat lucu.
“kemari kau. Aku hajar. Dasar manusia jelek” caci maki Shasa.
----BERSAMBUNG----
Karena sesuatu yang berhubungan dengan masalah cinta. Itu adalah masalah hati. Ketika ada pertanyaan tentangnya, cara terbaik adalah menanyakannya ke hati.
Selasa, 01 Maret 2011
Kamis, 17 Februari 2011
Briecal Bab 1
BAB 1
Gadis kecil dengan lesung pipit itu sesegukkan dipelukan kakak laki-lakinya. Ia tidak mau melepas pelukan ini. Ia tidak mau kakaknya pergi meninggalkannya. Ia tidak mau ditinggal sendirian.
Kakaknya mengusap lembut rambut gadis kecil itu. Berusaha meredakan tangisnya. Adik kecilnya yang sebentar lagi akan ditinggal jauh. Ya kakaknya ini akan pergi ke London untuk melanjutkan sekolanya. Kakaknya mendapat beasiswa selama 2 tahun disana.
“Ery udah ya. Cup. Jangan nangis terus. Jelek tau kalau Ery nangis” bujuk kakaknya lembut sambil menepuk-nepuk kepala Ery. Ya, Gadis kecil itu bernama Ery.
Ery menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau ditinggal. Tidak mau kakaknya pergi. Tidak mau segalanya. Cuma satu yang dia mau. Kakaknya tetap disini. Dirumah. Disampingnya. Memeluknya tanpa harus dilepas.
Briel(nama kakak Ery) menghela nafas berat. “ayo dong Ery. Kakak kan disana mau sekolah. Kakak kan mau jadi musisi hebat. Biar nanti kakak bisa main piano sambil nyanyi untuk Ery. Ery mau kan liat kakak main piano sambil nyanyi?” jelas briel panjang lebar untuk kesekian kalinya.
Ery mengangguk pasrah. Keputusan kakaknya ini sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Karena bagi kakaknya beasiswa ini penting sekali. Sudah sejak lama kakaknya menginginkan ini.
Briel tersenyum lega. Akhirnya setelah beberapa hari membujuk Ery. Adiknya ini mau mengerti juga. Sebenarnya bagi briel sendiri, ia enggan untuk meninggalkan Ery. Adik kecil yang begitu disayanginya. Malaikat kecil dari Tuhan yang selalu ada disisinya kapan saja.
Tapi mau bagaimana lagi. Beasiswa yang sudah diperjuangkannya sekarang sudah didapatkannya. Mau tidak mau briel harus berangkat. Nggak mungkinkan suatu saat ia akan mendapatkannya lagi? Seandainya dilepaskannya begitu sja beasiswa ini. Perbandingnya 1: 1000.
Briel mencium kening Ery lama. Mengucapkan terima kasih yang tulus.
Ery mengangkat kepalanya. Kepalanya yang sedari tadi terbenam dipelukan kakaknya. Dia mengusap air matanya dengan tangan mungilnya. Hidung dan matanya merah karena terlalu lama menangis. Kantung matanya juga jadi sedikit besar karena sembab.
Calvin* kakak laki-lakinya yang kedua menatap Ery sedih. Ada rasa sakit didadanya. Pasalnya beberapa bulan lagi dia juga akan pergi ke Korea. Untuk menerima hasil dari jerih payahnya selama ini. Hasil dari latihan berbulan-bulan. Hasil dari setiap tetes keringat dan air matanya. (* re: kalvin)
Calvin ke Korea untuk melanjutkan kendo tingkat lanjut disana. Sebuah seni beladiri asal Jepang. Ia memenangkan beberapa pertanding kendo tingkat internasional. Sehingga dari pihak klub kendonya, mengirimkannya ke Korea untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak. Agar kelak dia bisa menjadi atlit kendo professional.
Calvin sedih jika membayangkan Ery yang menangis untuk dirinya. Sekarang saja Ery sudah menangis kejer karena akan ditinggal Briel. Bagaimana nanti jika ia juga akan ditinggalkan calvin?
Mereka memang dekat satu sama lain. Apalagi Ery yang merupakan anak bungsu dan perempuan sendiri. Selama ini Ery tidak pernah jauh dari kakak-kakaknya. Ery juga selalu mendapat limpahan kasih sayang dari kedua kakaknya itu.
“makasih sayang” ucap Brie lulus
Ery mengangguk dan tersenyum “ kak briel janji ya ke Ery. Kakak nggak akan ngelupain Ery. Kak Briel bakal kirim surat teruskan ke Ery? Kak Briel janjikan?” pintanya bertubi-tubi dengan wajah penuh harap.
Briel mengangguk, mengacak rambut Ery. “iya Kak briel janji. Janji nggak akan lupain Ery. Janji juga bakal kirimin Ery surat setiap waktu. Oke cantik jangan nangis lagi ya”
Ery mengangguk sungguh-sungguh. Dia loncat dari pangkuan Briel. Dan berlari kekamarnya dilantai dua. Briel, Calvin, Ayah dan Bunda menatap punggung Ery yang sudah hilang dengan tatapan bingung. Dalam benak mereka hanya satu kalimat yang terlintas “mau apa ery?” .
Tidak lama Ery turun. Meloncati dua anak tangga sekaligus. Dia berlari-lari kecil kearah semuanya. Ditangannya sudah ada satu kotak berwarna biru dengan corak polkadot.
Ery duduk ditengah-tengah Briel dan Calvin. Ayah dan Bundanya duduk disofa depannya. Calvin menatap Ery bingung. Penasaran.
“itu apa ry?” tanyanya penasaran. Ery membuka kotak itu. Ada 3 kalung dan tiga gelang didalamnya. Ery mengambilnya dan memberikan satu persatu kekakak-kakaknya.
“ini Ery bikin waktu hari kasih sayang. Sudah lama sih. Waktu disekolah Ibu guru bilang orang yang kita sayang harus dikasih barang yang istimewa. Waktu itukan ada lomba buat bikin gelang sama kalung. Jadi Ery bikin ini. Karena Ery sayang banget sama kakak semua. Jadi Ery kasih ini” jelasnya panjang lebar. Ery menarik nafas sebentar “ini pake uang jajan Ery sendiri loh. Nggak minta Ayah atau bunda” lanjutnya dengan cengiran khasnya.
“BRIECAL?” kata Briel dan Calvin bersamaan. Calvin yang sudah benar-benar penasaran langsung bertanya. “apa artinya “briecal” ry?”
Ery tersenyum lucu, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “ Briel, Ery, Calvin” jawabnya polos
Briel memandang kalung dan gelang itu. Di huruf “bri” miliknya sedikit berbeda dari huruf yang lain. Di tiga huruf itu berwarna biru laut favoritnya.
“makasih ya Ery. Cantik. Kakak suka” komentar Briel seraya memakai kalungnya.
Ery cengengesan menanggapi komentar briel. “kak Briel jaga baik-baik ya. Kalau kakak kangen sama Ery dan Kak Cal. Kakak pandangi aja ini ya”
Briel mengacungkan jempolnya tanda oke. Sedangkan Calvin tersenyum simpul. Senyum yang begitu menawan. Ia mengacak rambut Ery. Dan secara cepat mencubit kedua pipi Ery. Dan langsung berlari keatas.
Ery meringis kesakitan. Kedua tangannya langsung mengelus-ngelus pipinya yang dicubit calvin. Ery merengut dan menggembungkan pipinya. Lucu sekali.
Dia langsung berlari mengejar Calvin sambil menggerutu kesal. Ery paling tidak suka jika kedua pipinya dicubit. Tapi karena ini juga yang sering membuat Ery dan Calvin berantem. Pipi ery yang chubby membuat orang yang melihatnya ingin mencubit.
Dan bagi Calvin mencubit pipi Ery dan membuatnya menggerutu adalah hal menarik tersendiri. Karena bila Ery mulai menggerutu dan kesal kedua pipinya itu akan digembungkannya. Membuat Calvin semakin gregetan bila tidak mencubitnya.
“kak Cal jahat. Awas ya” umpat Ery kesal
Briel, bunda dan ayah hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Ery. Gadis kecil yang selalu manja ke kakak dan orang tuanya. Briel menghentikan tawanya, wajahnya berubah jadi murung karena sekelebat bayangan yang terlintas dibenaknya barusan.
Bunda mengernyitkan keningnya. Heran dengan sikap Briel yang langsung berubah. Bunda mengelus lembut puncak kepala Briel. Menyalurkan rasa sayang dan perhatian seorang ibu kepada anak-anaknya.
“kenapa kak? Ada masalah. Cerita sama bunda dong. Jangan dipendam sendiri” kata bunda lembut
Briel menatap bundanya dengan wajah sendu
“Calvin bun” gumamnya sedih. Bunda dan ayah menghela nafas. Berat rasanya bila berbicara soal ini. Mereka bingung bagaimana cara memberitahu Ery tentang kepergian Calvin.
Selain dekat dengan Briel. Ery juga sangat dekat dengan Calvin. Bisa dibilang Ery adalah partner in crime Calvin. Walaupun sering membuat ulah bersama. Tapi mereka berdua sangat kompak dan saling sayang.
Ayah menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Tangan kanannya memperbaiki letak kacamata bacanya yang bergeser.
“kita pikirkan nanti. Biar Ery bisa menerima ini dulu. Biar dia nggak terlalu shock. Biar Calvin sendiri yang kasih tau Ery. Dia pasti punya cara agar Ery bisa ngerti” kata ayah menjelaskan dengan senyum hangat diujung kalimatnya.
Memang hanya Calvin yang bisa menjelaskan apa saja ke Ery. Tanpa harus membuat Ery menumpahkan air matanya bila sudah mendengar.
Bunda dan Briel mengangguk pasrah. Baru saja mereka ingin mengobrol yang lain. Dari lantai atas sudah terdengar jeritan Ery.
“huaaa kak cal jahat. Sakit”
“aduh-aduh. Ampun ry. Ampun. Sakit”
“nggak mau. Sakit tau kak”
“aduh. Ampun”
Briel cengo mendengar jeritan yang berturut-turut itu. Ia menggelengkan kepalanya. Kebiasaan, pikirnya.
“sana kak dilerai. Ntar tambah kacau. Ini sudah malam, malu kalau didengar tetangga” perintah ayah cepat. Masalahnya kalau mereka berdua nggak cepat-cepat dilerai. Bisa berabe urusannya.
Briel langsung berlari keatas. Tepatnya ke kamar Calvin. Karena jeritan Ery tadi berasal dari kamar Calvin. Briel membuka pintu kamar Calvin. Pandangannya beredar keseluruh penjuru kamar. Briel heran, kenapa kamarnya masih rapi? Biasanya kalau sudah Ery dan Calvin bertengkar. Kamar Calvin sudah berantakan sama seperti kapal pecah atau seperti kandang tikus. Mengenaskan.
Briel hendak menutup pintu karena tidak menemukan mereka berdua. Tapi niatnya itu dihentikan karena mendengar ocehan Ery dari arah balkon.
“liat kak. Tuh bintangnya tuh” suara Ery sambil menunjuk-nunjuk bintang dengan telunjuknya.
Briel mengalihkan pandangannya kea rah balkon. Yap, ternyata mereka berdua sedang duduk dibalkon. Calvin duduk memmbelakangi pintu balkon. Dan sepertinya Ery duduk dipangkuannya.
“bagusan yang itu. Lebih terang” kata Calvin menunjuk bintang yang paling terang.
“ih lain itu. Tapi yang itu tuh. Tuh tuh lebih banyak. Kalau itu sendirian’ bantah Ery sambil menunjuk bintang yang banyak dan beralih ke bintang yang ditunjuk Clvin.
“ah bagusan yang itu” bantah Calvin
“ah kakak. Yang itu lebih banyak. Lebih terang. Rame lagi” ery ngeyel dengan pendapatnya
“yang itu”
“yang itu”
“itu”
“itu”
“itu”
“itu”
“itu”
“itu”
Calvin dan Ery malah berantem. Saling tatap-menatap. Mata mereka mengeluarkan aura tidak mau mengalah. Briel yang melihat langsung masuk dan menggeser pintu balkon. Mengangkat Ery dan didudukkannya dipangkuannya.
“sudah stop. Jangan berantem lagi” lerai Briel. Namun Ery dan Calvin tetap tidak bergeming. Tetap saling menatap dengan pandangan tidak mau mengalah. Briel yang merasa tidak diperhatikan merasa kesal.
“mau stop atau nggak? Atau kakak kasih tau ayah sekarang” kata Briel seraya berdiri, menurunkan Ery dari pangkuannya. Lalu berjalan dengan tampak kesal.
Calvin dan Ery saling menatap. Menaikkan satu alis masing-masing. Lalu menengok ke Briel yang hampir membuka pintu. Gawat, batin mereka berdua. Calvin langsung berlari dan berdiri didepan pintu sebelum Briel membukanya. Sementara Ery berdiri didepan Briel dengan merentangkan kedua tangannya. Menghalangi Briel lewat.
“jangan kak. Ampun. Baikin deh kita” kata mereka berdua bersamaan.
Briel tetap berjalan kedepan. Menggeser badan Ery yang lebih kecil darinya. Menjauhkan Calvin dari pintu.
Calvin memegang tangan Briel dengan tampang melas. Sementara Ery memegang baju Briel.
“plis kak jangan ya. Ya ya jangan ya” pinta Ery
“iya kak jangan ya. Kita baikin deh. Ery maafin kakak” kata Cal sambil menjulurkan jari kelingkingnya ke Ery untuk baikan.
“iya kak. Ery juga maaf ya kak Cal” Ery mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Calvin.
“kita baikan kak. Jangan kasih tau ayah ya” pinta Calvin. Ery mengangguk tanda setuju.
Briel yang menghadap membelakangi mereka tersenyum senang. Baru diancam ingin dilaporkan saja mereka sudah mohon-mohon. Dalam hati Briel tertawa puas. Mereka berdua memang paling takut dengan Ayah. Soalnya kalau sudah berantem dan tidak ada yang saling mengalah untuk minta maaf. Ayah akan mengurung mereka berdua dikamar selama seharian. Biar bisa merenungi kesalahan masing-masing.
Briel berbalik, memasang wajah galak. Calvin dan Ery yang melihat langsung jiper. Karena wajah Briel menakutkan.
“beneran sudah maafan? Nggak akan berantem lagi?” Tanya Briel galak
Cal dan Ery mengangguk. “beneran kak”
“oke nggak akan kakak laporkan. Tapi kalau sampe berantem lagi langsung kakak laporkan” ancam Briel.
“iya janji” ucap mereka berdua.
“sip. Ayo duduk dibalkon lagi” kata Briel mengubah raut wajahnya dengan senyum hangat. Senyum yang selalu disukai Ery.
“kakak nggak marah?” Tanya Ery takut-takut
Briel tersenyum. “nggak Cuma bercanda aja tadi” jawab Briel cengengesan.
“yah” cal dan ery menghela nafas kesal.
“kenapa?” Briel bertanya dengan wajah bingung.
“nggak papa. Nggak papa”
Mereka bertiga duduk dibalkon kamar calvin. Menatap bintang-bintang yang sedang bersinar. Malam ini bintang-bintang dilangit memang sedang banyak. Tidak seperti biasanya. Ditambah dengan bulan sabit yang membentuk sebuah senyuman. Indah sekali.
Calvin duduk dengan kaki yang dimasukkan ke pagar pembatas. Sehingga kakinya terayun-ayun diudara. Menopang dagunya dengan kedua tangan yang dilipat di atas selasar pagar. Sementara Briel duduk dengan Ery yang ada dipangkuannya.
Menikmati angin malam yang berhembus tidak terlalu kencang. Sejuk. Mengibar-ngibarkan rambut Calvin dan Briel yang terkena hembusan angin.
“itu bintang kak Cal, itu bintang Ery, dan yang itu bintang kak Briel”celetuk Ery tiba-tiba sambil menunjuk tiga bintang yang berjejer berdampingan. Bintang yang sepertinya paling terang diantara ribuan bintang lain.
“dan itu bulan tiga bertiga” kata Briel seraya menunjuk bulan sabit yang sedang membentuk senyum.
Calvin terkekeh kecil. Menikmati suasana seperti ini. Suasana yang sebentar lagi akan terasa beda tanpa adanya Briel disamping mereka. Suasana yang akan sangat dirindukan mereka bertiga.
Calvin menghela nafas. Berusaha mengatur kata-kata dalam otaknya. Malam ini ia akan memberitahu Ery tentang kepergiannya.
“seandainya kak Cal pergi. Ery sedih nggak?” Tanya Calvin tiba-tiba. Ery yang mendengar pertanyaan kakaknya. Menatap bingung. Maksudnya apa?
“ya sedih lah. Emangnya kak Cal mau pergi?” Tanya Ery bingung.
Calvin tetap menghadap depan tanpa mengalihkannya ke Ery.
“kalau kakak juga pergi jauh sama kayak kak Briel. Ery juga akan nangis kayak tadi?” Tanya Calvin tanpa menjawab pertanyaan Ery.
Ery semakin bingung dengan pertanyaan Calvin. Sementara Briel tau kemana arah pertanyaan-pertanyaan Calvin.
“kak Cal tanya apa sih? Ery bingung” kata Ery
Calvin menghadap ke Ery dan Briel. Mengangkat kakinya dan duduk bersila. Calvin menatap wajah Ery yang sedang menatapnya bingung.
Calvin membelai rambut Ery dengan lembut dan tersenyum hangat. Ini saatnya cal, batinnya
“ery dengerin kak Cal ya. Terus ntar kalau kak Cal cerita jangan nangis ya? Ery cukup jawab pertanyaan kak Cal dengan anggukan. Ngerti?” kata calvin.
Ery mengangguk bingung. Calvin menghela nafas.
“Ery taukan kalau kak Cal ini atlit kendo?” tanyanya
Ery mengangguk
“Ery juga tau kan kalau kak Cal pengen jadi atlit professional?” tanyanya lagi.
Ery mengangguk lagi
“Ery juga tau kan. Kalau kak Cal pingin pergi ke luar negeri buat jadi atlit kendo professional?” tanyanya lagi
Ery mengangguk. Sementara Briel diam, tidak mau mengganggu Calvin yang sedang menjelaskan ke Ery.
“nah” kata Calvin menyelesaikan pertanyaannya. “6 bulan lagi kak Cal bakal pergi ke Korea buat ngejar cita-cita kakak sebagai atlit professional. Dan korea itu sama jauhnya seperti London. Dan kak Cal bakal 3 tahun tinggal disana. Ery disini baik-baik ya? Karena selama tiga tahun kak Cal nggak ada disamping Ery” jelas Calvin dengan suara bergetar.
Ery berusaha mencerna semua penjelasan Calvin. Penjelasan yang menurutnya sedikit susah untuk dimengerti.
“berarti kak Cal juga mau pergi kayak kak Briel?” tanyanya
Calvin mengangguk.
“berarti selama tiga tahun Ery bakal sendirian disini. Tanpa kak Cal dan Kak Briel?” Tanya Ery
“iya” jawab briel dan Calvin bersamaan.
Ery turun dari pangkuan Briel. Duduk sedikit menjauh dari cal dan briel. Bersila didepan pagar balkon. Memejamkan matanya. Berusaha mencerna semua pertanyaan dan penjelasan dari Calvin.
Briel dan Calvin menatap ery pasrah. Pasrah akan reaksi Ery. Pasrah akan apa yang terjadi setelah ini.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Tidak ada yang saling berbicara. Calvin menatap Briel dengan pandangan sendu.
“dia baik-baik aja Cal. Kamu nggak usah khawatir. Dia bisa ngerti” kata Briel sedikit berbisik dan menyakinkan Calvin.
Sementara Ery masih menutup matanya. Membiarkan angin malam membelai wajahnya. Merasakan kebersamaan yang sebentar lagi hilang. Hingga tiga tahun kedepan atau lebih.
Ery membuka matanya. Menarik nafas lalu dihembuskan perlahan. Berdiri dan berjalan kearah Calvin dan Briel. Duduk ditengah-tengah mereka.
“Ery izinin kak Cal pergi. Karena itu semua cita-cita kak Cal kan? Ery nggak berhak untuk cegah kak Cal pergi” ucapnya seraya tersenyum manis ke Calvin.
Calvin melongo. Kaget. Heran. Dan bingung. Adiknya baru kelas 6SD ini bisa berbicara seperti itu. Sama dengan Calvin. Briel juga menatap Ery bingung. Mudah sekali Ery bicara seperti itu.
Ery mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Calvin dan Briel. “iya kan kak?” ucapnya.
Calvin mengerjapkan matanya.
“beneran?” Tanya tidak percaya. Ery mengangguk.
Calvin langsung menarik ery. Memeluknya. Tidak percaya dan senang.
“makasih ry. Makasih banget” ucapnya penuh terima kasih.
Ery melepaskan dirinya dari pelukan calvin. Duduk menghadap depan. Memandang balkon sebrang balkon kamar calvin. Tertawa kecil saat melihat orang pemilik balkon itu terjungkang kebelakang saat mendarat setelah melakukan salto.
Balkon milik sahabat sejatinya. Raka Baskara. Yang lebih sering dipanggil Mizu. Oleh ketiga saudara ini. Panggilan yang entah berasal dari mana.
“kan kak Cal sendiri yang pernah bilang. Sebuah cita-cita yang sudah dinginkan sejak dulu dan bila suatu hari cita-cita itu akan terwujud. Nggak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya. Iya kan? Selain takdir tuhan yang bisa menghalangi cita-cita itu tentunya” ucapnya panjang lebar. Mengingat semua perkataan yang pernah diucapkan oleh Calvin pada suatu malam.
Sekali lagi Briel dan Calvin yang mendengar perkataan Ery. Melongo kaget. Hebat sekali adik mereka ini. Bisa mengingat semuanya. Padahal kata-kata barusan diucapkan oleh Calvin kira-kira tiga tahun yang lalu. Dan sekarang diucapkan oleh ery dengan tegas. Adik kecil mereka jadi terlihat lebih dewasa sepertinya.
“Ery memang sedih. Kak Briel dua hari lagi bakal pergi. Dan nggak lama lagi kak Cal juga pergi. Tapi kita bertiga nggak akan putus hubungan kan? Disini ada ayah, bunda, mizu dan kak Vano yang jagain Ery. Jadi Ery nggak bakal kesepian kalau kakak berdua pergi” ucapnya sekali lagi tanpa mengalihkan pandangannya.
Briel memutar badan Ery agar menghadap kearahnya. Memegang kedua bahu Ery. Menatapnya serius.
“Ery beneran bicara seperti itu? Ery beneran ngizinin kak Cal dan kak Briel pergi?” tanyanya masih belum percaya.
Ery mengangguk. “sangat-sangat serius. Untuk apa Ery menghalangi cita-cita kakak. Itu semua kan untuk kebahagiaan kakak. Jadi Ery izinin”
“tapi kenapa dari kemarin Ery nangis terus waktu kak Briel bilang bakal pergi?” Tanya Briel sambil menurunkan tangannya.
Ery manyun. “yee siapa suruh ngasih taunya kemarin lusa? Emangnya Ery nggak kaget apa? Kakak sih enak” protesnya.
Lah kenapa jadi briel yang disalahin?
“kok kakak?”
“iya lah. Coba kakak bilangnya dari lama. Jadi Ery kan bisa nyiapin mental” ucapnya masih manyun.
Hah? Nyiapin mental? Seperti apa aja. Dasar Ery.
“jadi sekarang Ery beneran yakin buat ngijinin Kak Cal pergi?” Tanya Calvin berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
Ery mengangguk. “seratus persen yakin. Atau kak Cal nggak mau nih Ery ijinin?” pancing Ery
Calvin menggoyang-goyangkan tangannya. “nggak nggak. Iya kakak percaya”
Ery dan Briel hanya tertawa saja. Malam ini. Dibawah langit yang sedang bertabur bintang. Dan ditemani oleh sebuah senyuman dari bulan sabit. Tiga bersaudara ini saling berjanji. Berjanji akan sebuah perubahan. Ya mereka ingin itu.
Ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain. Ingin membahagiakan kedua orang mereka. Dan berjanji akan selalu menyanyangi walaupun jarak memisahkan mereka dikemudian hari nanti.
“kak Briel, Ery bobo sama kakak ya?” pinta Ery manja.
Briel menundukkan kepalanya. Melihat Ery yang menaruh kepalanya di atas pahanya. “hmm boleh”
“yeee asik” Ery bangun dan langsung memeluk Briel. “Ery sayang kakak” ucap Ery tulus.
Briel mendekap Ery. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Adik kecilnya ini. Ia mengelus-elus rambut Ery. “ya kakak juga sayang sama Ery” balas Briel.
Sebuah pelukan yang akan selalu Ery rindukan bila Briel pergi nanti dan tidak bersamanya lagi. Pelukan dari kakaknya. Hangat. Itu pendapat ERy.
“manja” cibir Calvin
Ery hanya memeletkan lidahnya. Sambil mengucapkan kata-kata tanpa suara. Hanya menggerak-gerakkan bibirnya saja “kak cal iri”
Calvin melotot, dasar ya Ery ini. Cal maju, mendekat ke Briel. Dan ingin mencubit pipi Ery. Tapi kalah cepat. Karena Ery sudah menyembunyikan wajahnya di dada Briel.
“sini pipinya sini. Biar kak Cal cubit”
“nggak mau”
“sini sini”
“kak cal jahat”
“biarin”
Briel hanya mengulum sebuah senyum. Ya Allah ternyata sebentar lagi, Iel bakal ninggalin mereka. Jaga selalu mereka Ya Allah. Batin Briel.
“sudah stop. Ayo tidur. Sudah malam ini” lerai Briel.
Ery memeletkan lidahnya lagi. Mengejek Calvin yang dari tadi tidak mendapatkan pipinya.
“weeekk” ejeknya
“awas ya” Cal berdiri dan siap menangkap Ery yang bersembunyi di belakang punggung Briel.
“kyaaaaaaaaaaa” Ery berlari. Keluar dari kamar Calvin dan masuk ke kamar Briel.
Briel menggelengkan kepalanya. Dua adiknya ini sudah seperti anjing dan kucing saja. Baru beberapa menit yang lalu mereka hanyut dalam suasana mellow. Sekarang sudah kejar-kejaran lagi.
Dan satu yang di syukurin oleh Briel. Ery tidak menangis lagi. Ya memang benar kata Ayahnya. Kalau Calvin itu selalu punya cara tersendiri dalam berbicara dengan Ery. Tanpa harus membuat Ery menangis.
Gadis kecil dengan lesung pipit itu sesegukkan dipelukan kakak laki-lakinya. Ia tidak mau melepas pelukan ini. Ia tidak mau kakaknya pergi meninggalkannya. Ia tidak mau ditinggal sendirian.
Kakaknya mengusap lembut rambut gadis kecil itu. Berusaha meredakan tangisnya. Adik kecilnya yang sebentar lagi akan ditinggal jauh. Ya kakaknya ini akan pergi ke London untuk melanjutkan sekolanya. Kakaknya mendapat beasiswa selama 2 tahun disana.
“Ery udah ya. Cup. Jangan nangis terus. Jelek tau kalau Ery nangis” bujuk kakaknya lembut sambil menepuk-nepuk kepala Ery. Ya, Gadis kecil itu bernama Ery.
Ery menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau ditinggal. Tidak mau kakaknya pergi. Tidak mau segalanya. Cuma satu yang dia mau. Kakaknya tetap disini. Dirumah. Disampingnya. Memeluknya tanpa harus dilepas.
Briel(nama kakak Ery) menghela nafas berat. “ayo dong Ery. Kakak kan disana mau sekolah. Kakak kan mau jadi musisi hebat. Biar nanti kakak bisa main piano sambil nyanyi untuk Ery. Ery mau kan liat kakak main piano sambil nyanyi?” jelas briel panjang lebar untuk kesekian kalinya.
Ery mengangguk pasrah. Keputusan kakaknya ini sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Karena bagi kakaknya beasiswa ini penting sekali. Sudah sejak lama kakaknya menginginkan ini.
Briel tersenyum lega. Akhirnya setelah beberapa hari membujuk Ery. Adiknya ini mau mengerti juga. Sebenarnya bagi briel sendiri, ia enggan untuk meninggalkan Ery. Adik kecil yang begitu disayanginya. Malaikat kecil dari Tuhan yang selalu ada disisinya kapan saja.
Tapi mau bagaimana lagi. Beasiswa yang sudah diperjuangkannya sekarang sudah didapatkannya. Mau tidak mau briel harus berangkat. Nggak mungkinkan suatu saat ia akan mendapatkannya lagi? Seandainya dilepaskannya begitu sja beasiswa ini. Perbandingnya 1: 1000.
Briel mencium kening Ery lama. Mengucapkan terima kasih yang tulus.
Ery mengangkat kepalanya. Kepalanya yang sedari tadi terbenam dipelukan kakaknya. Dia mengusap air matanya dengan tangan mungilnya. Hidung dan matanya merah karena terlalu lama menangis. Kantung matanya juga jadi sedikit besar karena sembab.
Calvin* kakak laki-lakinya yang kedua menatap Ery sedih. Ada rasa sakit didadanya. Pasalnya beberapa bulan lagi dia juga akan pergi ke Korea. Untuk menerima hasil dari jerih payahnya selama ini. Hasil dari latihan berbulan-bulan. Hasil dari setiap tetes keringat dan air matanya. (* re: kalvin)
Calvin ke Korea untuk melanjutkan kendo tingkat lanjut disana. Sebuah seni beladiri asal Jepang. Ia memenangkan beberapa pertanding kendo tingkat internasional. Sehingga dari pihak klub kendonya, mengirimkannya ke Korea untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak. Agar kelak dia bisa menjadi atlit kendo professional.
Calvin sedih jika membayangkan Ery yang menangis untuk dirinya. Sekarang saja Ery sudah menangis kejer karena akan ditinggal Briel. Bagaimana nanti jika ia juga akan ditinggalkan calvin?
Mereka memang dekat satu sama lain. Apalagi Ery yang merupakan anak bungsu dan perempuan sendiri. Selama ini Ery tidak pernah jauh dari kakak-kakaknya. Ery juga selalu mendapat limpahan kasih sayang dari kedua kakaknya itu.
“makasih sayang” ucap Brie lulus
Ery mengangguk dan tersenyum “ kak briel janji ya ke Ery. Kakak nggak akan ngelupain Ery. Kak Briel bakal kirim surat teruskan ke Ery? Kak Briel janjikan?” pintanya bertubi-tubi dengan wajah penuh harap.
Briel mengangguk, mengacak rambut Ery. “iya Kak briel janji. Janji nggak akan lupain Ery. Janji juga bakal kirimin Ery surat setiap waktu. Oke cantik jangan nangis lagi ya”
Ery mengangguk sungguh-sungguh. Dia loncat dari pangkuan Briel. Dan berlari kekamarnya dilantai dua. Briel, Calvin, Ayah dan Bunda menatap punggung Ery yang sudah hilang dengan tatapan bingung. Dalam benak mereka hanya satu kalimat yang terlintas “mau apa ery?” .
Tidak lama Ery turun. Meloncati dua anak tangga sekaligus. Dia berlari-lari kecil kearah semuanya. Ditangannya sudah ada satu kotak berwarna biru dengan corak polkadot.
Ery duduk ditengah-tengah Briel dan Calvin. Ayah dan Bundanya duduk disofa depannya. Calvin menatap Ery bingung. Penasaran.
“itu apa ry?” tanyanya penasaran. Ery membuka kotak itu. Ada 3 kalung dan tiga gelang didalamnya. Ery mengambilnya dan memberikan satu persatu kekakak-kakaknya.
“ini Ery bikin waktu hari kasih sayang. Sudah lama sih. Waktu disekolah Ibu guru bilang orang yang kita sayang harus dikasih barang yang istimewa. Waktu itukan ada lomba buat bikin gelang sama kalung. Jadi Ery bikin ini. Karena Ery sayang banget sama kakak semua. Jadi Ery kasih ini” jelasnya panjang lebar. Ery menarik nafas sebentar “ini pake uang jajan Ery sendiri loh. Nggak minta Ayah atau bunda” lanjutnya dengan cengiran khasnya.
“BRIECAL?” kata Briel dan Calvin bersamaan. Calvin yang sudah benar-benar penasaran langsung bertanya. “apa artinya “briecal” ry?”
Ery tersenyum lucu, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “ Briel, Ery, Calvin” jawabnya polos
Briel memandang kalung dan gelang itu. Di huruf “bri” miliknya sedikit berbeda dari huruf yang lain. Di tiga huruf itu berwarna biru laut favoritnya.
“makasih ya Ery. Cantik. Kakak suka” komentar Briel seraya memakai kalungnya.
Ery cengengesan menanggapi komentar briel. “kak Briel jaga baik-baik ya. Kalau kakak kangen sama Ery dan Kak Cal. Kakak pandangi aja ini ya”
Briel mengacungkan jempolnya tanda oke. Sedangkan Calvin tersenyum simpul. Senyum yang begitu menawan. Ia mengacak rambut Ery. Dan secara cepat mencubit kedua pipi Ery. Dan langsung berlari keatas.
Ery meringis kesakitan. Kedua tangannya langsung mengelus-ngelus pipinya yang dicubit calvin. Ery merengut dan menggembungkan pipinya. Lucu sekali.
Dia langsung berlari mengejar Calvin sambil menggerutu kesal. Ery paling tidak suka jika kedua pipinya dicubit. Tapi karena ini juga yang sering membuat Ery dan Calvin berantem. Pipi ery yang chubby membuat orang yang melihatnya ingin mencubit.
Dan bagi Calvin mencubit pipi Ery dan membuatnya menggerutu adalah hal menarik tersendiri. Karena bila Ery mulai menggerutu dan kesal kedua pipinya itu akan digembungkannya. Membuat Calvin semakin gregetan bila tidak mencubitnya.
“kak Cal jahat. Awas ya” umpat Ery kesal
Briel, bunda dan ayah hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Ery. Gadis kecil yang selalu manja ke kakak dan orang tuanya. Briel menghentikan tawanya, wajahnya berubah jadi murung karena sekelebat bayangan yang terlintas dibenaknya barusan.
Bunda mengernyitkan keningnya. Heran dengan sikap Briel yang langsung berubah. Bunda mengelus lembut puncak kepala Briel. Menyalurkan rasa sayang dan perhatian seorang ibu kepada anak-anaknya.
“kenapa kak? Ada masalah. Cerita sama bunda dong. Jangan dipendam sendiri” kata bunda lembut
Briel menatap bundanya dengan wajah sendu
“Calvin bun” gumamnya sedih. Bunda dan ayah menghela nafas. Berat rasanya bila berbicara soal ini. Mereka bingung bagaimana cara memberitahu Ery tentang kepergian Calvin.
Selain dekat dengan Briel. Ery juga sangat dekat dengan Calvin. Bisa dibilang Ery adalah partner in crime Calvin. Walaupun sering membuat ulah bersama. Tapi mereka berdua sangat kompak dan saling sayang.
Ayah menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Tangan kanannya memperbaiki letak kacamata bacanya yang bergeser.
“kita pikirkan nanti. Biar Ery bisa menerima ini dulu. Biar dia nggak terlalu shock. Biar Calvin sendiri yang kasih tau Ery. Dia pasti punya cara agar Ery bisa ngerti” kata ayah menjelaskan dengan senyum hangat diujung kalimatnya.
Memang hanya Calvin yang bisa menjelaskan apa saja ke Ery. Tanpa harus membuat Ery menumpahkan air matanya bila sudah mendengar.
Bunda dan Briel mengangguk pasrah. Baru saja mereka ingin mengobrol yang lain. Dari lantai atas sudah terdengar jeritan Ery.
“huaaa kak cal jahat. Sakit”
“aduh-aduh. Ampun ry. Ampun. Sakit”
“nggak mau. Sakit tau kak”
“aduh. Ampun”
Briel cengo mendengar jeritan yang berturut-turut itu. Ia menggelengkan kepalanya. Kebiasaan, pikirnya.
“sana kak dilerai. Ntar tambah kacau. Ini sudah malam, malu kalau didengar tetangga” perintah ayah cepat. Masalahnya kalau mereka berdua nggak cepat-cepat dilerai. Bisa berabe urusannya.
Briel langsung berlari keatas. Tepatnya ke kamar Calvin. Karena jeritan Ery tadi berasal dari kamar Calvin. Briel membuka pintu kamar Calvin. Pandangannya beredar keseluruh penjuru kamar. Briel heran, kenapa kamarnya masih rapi? Biasanya kalau sudah Ery dan Calvin bertengkar. Kamar Calvin sudah berantakan sama seperti kapal pecah atau seperti kandang tikus. Mengenaskan.
Briel hendak menutup pintu karena tidak menemukan mereka berdua. Tapi niatnya itu dihentikan karena mendengar ocehan Ery dari arah balkon.
“liat kak. Tuh bintangnya tuh” suara Ery sambil menunjuk-nunjuk bintang dengan telunjuknya.
Briel mengalihkan pandangannya kea rah balkon. Yap, ternyata mereka berdua sedang duduk dibalkon. Calvin duduk memmbelakangi pintu balkon. Dan sepertinya Ery duduk dipangkuannya.
“bagusan yang itu. Lebih terang” kata Calvin menunjuk bintang yang paling terang.
“ih lain itu. Tapi yang itu tuh. Tuh tuh lebih banyak. Kalau itu sendirian’ bantah Ery sambil menunjuk bintang yang banyak dan beralih ke bintang yang ditunjuk Clvin.
“ah bagusan yang itu” bantah Calvin
“ah kakak. Yang itu lebih banyak. Lebih terang. Rame lagi” ery ngeyel dengan pendapatnya
“yang itu”
“yang itu”
“itu”
“itu”
“itu”
“itu”
“itu”
“itu”
Calvin dan Ery malah berantem. Saling tatap-menatap. Mata mereka mengeluarkan aura tidak mau mengalah. Briel yang melihat langsung masuk dan menggeser pintu balkon. Mengangkat Ery dan didudukkannya dipangkuannya.
“sudah stop. Jangan berantem lagi” lerai Briel. Namun Ery dan Calvin tetap tidak bergeming. Tetap saling menatap dengan pandangan tidak mau mengalah. Briel yang merasa tidak diperhatikan merasa kesal.
“mau stop atau nggak? Atau kakak kasih tau ayah sekarang” kata Briel seraya berdiri, menurunkan Ery dari pangkuannya. Lalu berjalan dengan tampak kesal.
Calvin dan Ery saling menatap. Menaikkan satu alis masing-masing. Lalu menengok ke Briel yang hampir membuka pintu. Gawat, batin mereka berdua. Calvin langsung berlari dan berdiri didepan pintu sebelum Briel membukanya. Sementara Ery berdiri didepan Briel dengan merentangkan kedua tangannya. Menghalangi Briel lewat.
“jangan kak. Ampun. Baikin deh kita” kata mereka berdua bersamaan.
Briel tetap berjalan kedepan. Menggeser badan Ery yang lebih kecil darinya. Menjauhkan Calvin dari pintu.
Calvin memegang tangan Briel dengan tampang melas. Sementara Ery memegang baju Briel.
“plis kak jangan ya. Ya ya jangan ya” pinta Ery
“iya kak jangan ya. Kita baikin deh. Ery maafin kakak” kata Cal sambil menjulurkan jari kelingkingnya ke Ery untuk baikan.
“iya kak. Ery juga maaf ya kak Cal” Ery mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Calvin.
“kita baikan kak. Jangan kasih tau ayah ya” pinta Calvin. Ery mengangguk tanda setuju.
Briel yang menghadap membelakangi mereka tersenyum senang. Baru diancam ingin dilaporkan saja mereka sudah mohon-mohon. Dalam hati Briel tertawa puas. Mereka berdua memang paling takut dengan Ayah. Soalnya kalau sudah berantem dan tidak ada yang saling mengalah untuk minta maaf. Ayah akan mengurung mereka berdua dikamar selama seharian. Biar bisa merenungi kesalahan masing-masing.
Briel berbalik, memasang wajah galak. Calvin dan Ery yang melihat langsung jiper. Karena wajah Briel menakutkan.
“beneran sudah maafan? Nggak akan berantem lagi?” Tanya Briel galak
Cal dan Ery mengangguk. “beneran kak”
“oke nggak akan kakak laporkan. Tapi kalau sampe berantem lagi langsung kakak laporkan” ancam Briel.
“iya janji” ucap mereka berdua.
“sip. Ayo duduk dibalkon lagi” kata Briel mengubah raut wajahnya dengan senyum hangat. Senyum yang selalu disukai Ery.
“kakak nggak marah?” Tanya Ery takut-takut
Briel tersenyum. “nggak Cuma bercanda aja tadi” jawab Briel cengengesan.
“yah” cal dan ery menghela nafas kesal.
“kenapa?” Briel bertanya dengan wajah bingung.
“nggak papa. Nggak papa”
Mereka bertiga duduk dibalkon kamar calvin. Menatap bintang-bintang yang sedang bersinar. Malam ini bintang-bintang dilangit memang sedang banyak. Tidak seperti biasanya. Ditambah dengan bulan sabit yang membentuk sebuah senyuman. Indah sekali.
Calvin duduk dengan kaki yang dimasukkan ke pagar pembatas. Sehingga kakinya terayun-ayun diudara. Menopang dagunya dengan kedua tangan yang dilipat di atas selasar pagar. Sementara Briel duduk dengan Ery yang ada dipangkuannya.
Menikmati angin malam yang berhembus tidak terlalu kencang. Sejuk. Mengibar-ngibarkan rambut Calvin dan Briel yang terkena hembusan angin.
“itu bintang kak Cal, itu bintang Ery, dan yang itu bintang kak Briel”celetuk Ery tiba-tiba sambil menunjuk tiga bintang yang berjejer berdampingan. Bintang yang sepertinya paling terang diantara ribuan bintang lain.
“dan itu bulan tiga bertiga” kata Briel seraya menunjuk bulan sabit yang sedang membentuk senyum.
Calvin terkekeh kecil. Menikmati suasana seperti ini. Suasana yang sebentar lagi akan terasa beda tanpa adanya Briel disamping mereka. Suasana yang akan sangat dirindukan mereka bertiga.
Calvin menghela nafas. Berusaha mengatur kata-kata dalam otaknya. Malam ini ia akan memberitahu Ery tentang kepergiannya.
“seandainya kak Cal pergi. Ery sedih nggak?” Tanya Calvin tiba-tiba. Ery yang mendengar pertanyaan kakaknya. Menatap bingung. Maksudnya apa?
“ya sedih lah. Emangnya kak Cal mau pergi?” Tanya Ery bingung.
Calvin tetap menghadap depan tanpa mengalihkannya ke Ery.
“kalau kakak juga pergi jauh sama kayak kak Briel. Ery juga akan nangis kayak tadi?” Tanya Calvin tanpa menjawab pertanyaan Ery.
Ery semakin bingung dengan pertanyaan Calvin. Sementara Briel tau kemana arah pertanyaan-pertanyaan Calvin.
“kak Cal tanya apa sih? Ery bingung” kata Ery
Calvin menghadap ke Ery dan Briel. Mengangkat kakinya dan duduk bersila. Calvin menatap wajah Ery yang sedang menatapnya bingung.
Calvin membelai rambut Ery dengan lembut dan tersenyum hangat. Ini saatnya cal, batinnya
“ery dengerin kak Cal ya. Terus ntar kalau kak Cal cerita jangan nangis ya? Ery cukup jawab pertanyaan kak Cal dengan anggukan. Ngerti?” kata calvin.
Ery mengangguk bingung. Calvin menghela nafas.
“Ery taukan kalau kak Cal ini atlit kendo?” tanyanya
Ery mengangguk
“Ery juga tau kan kalau kak Cal pengen jadi atlit professional?” tanyanya lagi.
Ery mengangguk lagi
“Ery juga tau kan. Kalau kak Cal pingin pergi ke luar negeri buat jadi atlit kendo professional?” tanyanya lagi
Ery mengangguk. Sementara Briel diam, tidak mau mengganggu Calvin yang sedang menjelaskan ke Ery.
“nah” kata Calvin menyelesaikan pertanyaannya. “6 bulan lagi kak Cal bakal pergi ke Korea buat ngejar cita-cita kakak sebagai atlit professional. Dan korea itu sama jauhnya seperti London. Dan kak Cal bakal 3 tahun tinggal disana. Ery disini baik-baik ya? Karena selama tiga tahun kak Cal nggak ada disamping Ery” jelas Calvin dengan suara bergetar.
Ery berusaha mencerna semua penjelasan Calvin. Penjelasan yang menurutnya sedikit susah untuk dimengerti.
“berarti kak Cal juga mau pergi kayak kak Briel?” tanyanya
Calvin mengangguk.
“berarti selama tiga tahun Ery bakal sendirian disini. Tanpa kak Cal dan Kak Briel?” Tanya Ery
“iya” jawab briel dan Calvin bersamaan.
Ery turun dari pangkuan Briel. Duduk sedikit menjauh dari cal dan briel. Bersila didepan pagar balkon. Memejamkan matanya. Berusaha mencerna semua pertanyaan dan penjelasan dari Calvin.
Briel dan Calvin menatap ery pasrah. Pasrah akan reaksi Ery. Pasrah akan apa yang terjadi setelah ini.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Tidak ada yang saling berbicara. Calvin menatap Briel dengan pandangan sendu.
“dia baik-baik aja Cal. Kamu nggak usah khawatir. Dia bisa ngerti” kata Briel sedikit berbisik dan menyakinkan Calvin.
Sementara Ery masih menutup matanya. Membiarkan angin malam membelai wajahnya. Merasakan kebersamaan yang sebentar lagi hilang. Hingga tiga tahun kedepan atau lebih.
Ery membuka matanya. Menarik nafas lalu dihembuskan perlahan. Berdiri dan berjalan kearah Calvin dan Briel. Duduk ditengah-tengah mereka.
“Ery izinin kak Cal pergi. Karena itu semua cita-cita kak Cal kan? Ery nggak berhak untuk cegah kak Cal pergi” ucapnya seraya tersenyum manis ke Calvin.
Calvin melongo. Kaget. Heran. Dan bingung. Adiknya baru kelas 6SD ini bisa berbicara seperti itu. Sama dengan Calvin. Briel juga menatap Ery bingung. Mudah sekali Ery bicara seperti itu.
Ery mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Calvin dan Briel. “iya kan kak?” ucapnya.
Calvin mengerjapkan matanya.
“beneran?” Tanya tidak percaya. Ery mengangguk.
Calvin langsung menarik ery. Memeluknya. Tidak percaya dan senang.
“makasih ry. Makasih banget” ucapnya penuh terima kasih.
Ery melepaskan dirinya dari pelukan calvin. Duduk menghadap depan. Memandang balkon sebrang balkon kamar calvin. Tertawa kecil saat melihat orang pemilik balkon itu terjungkang kebelakang saat mendarat setelah melakukan salto.
Balkon milik sahabat sejatinya. Raka Baskara. Yang lebih sering dipanggil Mizu. Oleh ketiga saudara ini. Panggilan yang entah berasal dari mana.
“kan kak Cal sendiri yang pernah bilang. Sebuah cita-cita yang sudah dinginkan sejak dulu dan bila suatu hari cita-cita itu akan terwujud. Nggak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya. Iya kan? Selain takdir tuhan yang bisa menghalangi cita-cita itu tentunya” ucapnya panjang lebar. Mengingat semua perkataan yang pernah diucapkan oleh Calvin pada suatu malam.
Sekali lagi Briel dan Calvin yang mendengar perkataan Ery. Melongo kaget. Hebat sekali adik mereka ini. Bisa mengingat semuanya. Padahal kata-kata barusan diucapkan oleh Calvin kira-kira tiga tahun yang lalu. Dan sekarang diucapkan oleh ery dengan tegas. Adik kecil mereka jadi terlihat lebih dewasa sepertinya.
“Ery memang sedih. Kak Briel dua hari lagi bakal pergi. Dan nggak lama lagi kak Cal juga pergi. Tapi kita bertiga nggak akan putus hubungan kan? Disini ada ayah, bunda, mizu dan kak Vano yang jagain Ery. Jadi Ery nggak bakal kesepian kalau kakak berdua pergi” ucapnya sekali lagi tanpa mengalihkan pandangannya.
Briel memutar badan Ery agar menghadap kearahnya. Memegang kedua bahu Ery. Menatapnya serius.
“Ery beneran bicara seperti itu? Ery beneran ngizinin kak Cal dan kak Briel pergi?” tanyanya masih belum percaya.
Ery mengangguk. “sangat-sangat serius. Untuk apa Ery menghalangi cita-cita kakak. Itu semua kan untuk kebahagiaan kakak. Jadi Ery izinin”
“tapi kenapa dari kemarin Ery nangis terus waktu kak Briel bilang bakal pergi?” Tanya Briel sambil menurunkan tangannya.
Ery manyun. “yee siapa suruh ngasih taunya kemarin lusa? Emangnya Ery nggak kaget apa? Kakak sih enak” protesnya.
Lah kenapa jadi briel yang disalahin?
“kok kakak?”
“iya lah. Coba kakak bilangnya dari lama. Jadi Ery kan bisa nyiapin mental” ucapnya masih manyun.
Hah? Nyiapin mental? Seperti apa aja. Dasar Ery.
“jadi sekarang Ery beneran yakin buat ngijinin Kak Cal pergi?” Tanya Calvin berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
Ery mengangguk. “seratus persen yakin. Atau kak Cal nggak mau nih Ery ijinin?” pancing Ery
Calvin menggoyang-goyangkan tangannya. “nggak nggak. Iya kakak percaya”
Ery dan Briel hanya tertawa saja. Malam ini. Dibawah langit yang sedang bertabur bintang. Dan ditemani oleh sebuah senyuman dari bulan sabit. Tiga bersaudara ini saling berjanji. Berjanji akan sebuah perubahan. Ya mereka ingin itu.
Ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain. Ingin membahagiakan kedua orang mereka. Dan berjanji akan selalu menyanyangi walaupun jarak memisahkan mereka dikemudian hari nanti.
“kak Briel, Ery bobo sama kakak ya?” pinta Ery manja.
Briel menundukkan kepalanya. Melihat Ery yang menaruh kepalanya di atas pahanya. “hmm boleh”
“yeee asik” Ery bangun dan langsung memeluk Briel. “Ery sayang kakak” ucap Ery tulus.
Briel mendekap Ery. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Adik kecilnya ini. Ia mengelus-elus rambut Ery. “ya kakak juga sayang sama Ery” balas Briel.
Sebuah pelukan yang akan selalu Ery rindukan bila Briel pergi nanti dan tidak bersamanya lagi. Pelukan dari kakaknya. Hangat. Itu pendapat ERy.
“manja” cibir Calvin
Ery hanya memeletkan lidahnya. Sambil mengucapkan kata-kata tanpa suara. Hanya menggerak-gerakkan bibirnya saja “kak cal iri”
Calvin melotot, dasar ya Ery ini. Cal maju, mendekat ke Briel. Dan ingin mencubit pipi Ery. Tapi kalah cepat. Karena Ery sudah menyembunyikan wajahnya di dada Briel.
“sini pipinya sini. Biar kak Cal cubit”
“nggak mau”
“sini sini”
“kak cal jahat”
“biarin”
Briel hanya mengulum sebuah senyum. Ya Allah ternyata sebentar lagi, Iel bakal ninggalin mereka. Jaga selalu mereka Ya Allah. Batin Briel.
“sudah stop. Ayo tidur. Sudah malam ini” lerai Briel.
Ery memeletkan lidahnya lagi. Mengejek Calvin yang dari tadi tidak mendapatkan pipinya.
“weeekk” ejeknya
“awas ya” Cal berdiri dan siap menangkap Ery yang bersembunyi di belakang punggung Briel.
“kyaaaaaaaaaaa” Ery berlari. Keluar dari kamar Calvin dan masuk ke kamar Briel.
Briel menggelengkan kepalanya. Dua adiknya ini sudah seperti anjing dan kucing saja. Baru beberapa menit yang lalu mereka hanyut dalam suasana mellow. Sekarang sudah kejar-kejaran lagi.
Dan satu yang di syukurin oleh Briel. Ery tidak menangis lagi. Ya memang benar kata Ayahnya. Kalau Calvin itu selalu punya cara tersendiri dalam berbicara dengan Ery. Tanpa harus membuat Ery menangis.
Langganan:
Postingan (Atom)
Membingungkan
Kacau. Membingungkan. Semuanya membingungkan. Iya. Aku menghadapinya jadi bingung sendiri. Nggak serta merta merasa senang diber...
-
Hate First, Love You Later “Karena aku tahu, jalan pulang itu rindu, dan rumahku tetap kamu” Nimas Disri Gagas Media ...
-
ini cuma iseng-iseng doang... pengen nerbitin (yaelah bahasanya) maksudnya pengen kasih liat gambar hasil ciptaan saya hahaha :D conan.. ...
-
Too Good For You Adeliany Azfar Elexmedia 2018 . . ⌨ 📖 BLURB 📖 ⌨ . Zee bukanlah Putri Salju atau Put...