Karena sesuatu yang berhubungan dengan masalah cinta.
Itu adalah masalah hati.
Ketika ada pertanyaan tentangnya, cara terbaik adalah menanyakannya ke hati.
Linden
atau diterjemahkan dengan nama Tilia dalam bahasa Indonesia adalah sebuah pohon
yang berasal dari wilayah Eropa tengah dan timur.
Nama
latinnya adalah Tilia platyphyllos.
Pohon
Linden merupakan salah satu jenis pohon yang sering tumbuh di hutan musim dan
hutan homogen di wilayah pegunungan bagian tengah (tidak terlalu tinggi).
Tinggi
pohon ini dapat mencapai 40 meter dan diameter batangnya sekitar 1,8 meter.
Warna
daunnya hijau tua dan berbentuk hati. Lebar daun sekitar 6-15 cm.
Pohon
Linden berbunga pada bulan Juni dan bunganya berwarna putih kehijauan. Pohon
ini dapat tumbuh sampai berumur ratusan tahun.
Pohon Linden merupakan salah satu pohon yang multifungsi.
Pada umumnya ia ditanam sebagai
pembatas jalan atau penghias taman seperti yang terdapat pada salah satu jalan
utama di Berlin yang bernama Unter der Linden.
Bunganya menghasilkan banyak madu
yang manis untuk makanan lebah.
Kayunya juga sangat berguna untuk
kayu bakar dan merupakan salah satu pohon yang baik untuk ditebang karena ia
dapat tumbuh dengan cepat.
Pucuk-pucuk mudanya yang lembut
juga seringkali dimasak sebagai salad.
Konon katanya pohon ini juga dapat
menyembuhkan penyakit epilepsi dan bunganya sering diseduh dalam teh untuk
minuman relaksasi.
Pada abad pertengahan, kayu pohon
Linden digunakan untuk seni ukir dan pembuatan patung.
Dalam bidang budaya, pohon Linden dijadikan sebagai penanda pusat kota atau
desa.
Tradisi ini berawal dari zaman
dahulu kala dan sekarang pohon-pohon yang berusia ratusan tahun ini dapat
ditemukan di beberapa pusat kota-kota tua di Jerman. Di bawah pohon inilah para
warga kota dan desa berkumpul dan mengadakan pesta. Mereka menari di bawah
pohon ini sehingga ada sebuah jenis pohon Linden di Jerman yang dikenal dengan
nama Tanzlinden (Tanz = Tarian).
Seringkali setelah berakhirnya suatu perang atau wabah penyakit, penduduk kota
atau desa menanam pohon Linden yang dianggap sebagai simbol perdamaian. Salah
satunya adalah ketika Perjanjian Westphalia yang mengakhiri perang 30 tahun di
Jerman ditandatangani. Selain dua hal di atas, pohon Linden digunakan untuk
tempat pertemuan para penduduk dan tempat melangsungkan upacara pernikahan.
Dalam mitologi Teutonic atau Norse, pohon Linden dianggap (atau didedikasikan)
sebagai dewi Freyja (atau Frau Holle), dewi cinta, kecantikan dan kesuburan.
Mungkin karena daunnya yang berbentuk hati? Atau karena kecenderungan bahwa
pada abad pertengahan, pohon ini sering digunakan para pasangan untuk duduk di
bawahnya sembari memadu kasih. Karena dedikasi ini pula (mungkin) masyarakat
menganggap pohon ini berjenis kelamin perempuan. Maka dalam bahasa Jerman
disebut die Linden. Sementara itu
pohon oak yang sering ditemukan tumbuh dekat pohon Linden didedikasikan untuk
Thor, dewa petir.
Mitos ini lain lagi dalam mitologi Yunani. Dikisahkan bahwa Zeus dan Hermes
yang menyamar untuk turun ke dunia manusia dan melihat apa yang dilakukan
manusia mencari tempat tinggal. Tidak ada seorang pun yang bersedia menerima
mereka kecuali pasangan suami istri Philemon dan Baucis. Pasangan ini kemudian
diberi hadiah sesuai permintaan mereka. Karena mereka meminta untuk tidak
melihat pasangannya mati lebih dulu maka ketika keduanya mati, Philemon
dijadikan pohon oak dan Baucis sebagai pohon Linden. Karena itu sampai sekarang
kedua pohon ini sering ditemukan tumbuh berdekatan. Karena cerita ini juga,
pohon Linden menjadi simbol cinta, kebaikan hati, persahabatan dan keramahan.
Dalam mitologi Celtic ada kisah lain lagi. Pohon Linden dianggap dapat
memberikan kebijaksanaan dan keadilan maka suatu pengadilan terbuka di masa
abad pertengahan seringkali dilakukan di bawah pohon ini. Kepercayaan ini juga
terdapat di Jerman maka pada abad pertengahan pun pengadilan desa di Jerman
dilakukan di bawah pohon Linden.
Pohon Linden sangat populer dalam seni sastra khususnya kesusastraan Jerman.
Pohon Linden banyak disebut dalam puisi maupun prosa. Minnelied (syair/lirik
cinta yang populer di Jerman pada abad pertengahan) karangan penyair ternama
Walther von der Vogelweide berjudul Under der Linden. Syair ini mengisahkan
tentang seorang gadis desa yang menceritakan pengalamannya bercinta dengan
seorang ksatria di bawah pohon Linden.
Under der linden an der heide Da unser zweier bette was Da mugt ir vinden schone beide Gebrochen bluomen unde gras Vor dem walder in einem tal Tandaradei! Schone sanc diu nahtegall
Ich kam gegangen zuo der ouwe,
Do was min friedel komen e.
Da wart ich enpfangen here frouwe,
Daz ich bin sael;lic iemer me.
Kuster mich? Wol tusentunt!
Tamdaradei!
Seht, wie rot mir ist der munt.
Kemudian Bettina Brentano, saudara perempuan dari Clemens Brentano pun menulis
pada saudara laki-lakinya sebagai berikut:
Die Linden
blühen, Clemente, und der Abendwind schüttelt sich in ihren Zweigen. Wer bin
ich, daß ihr mir all euren Duft zuweht, ihr Linden? Ach, sagen die
Linden, Du gehst so einsam zwischen unseren Stämmen herum und umfaßt unsre
Stämme, als wenn wir Menschen wären, da sprechen wir dich an mit unserm Duft.
Sebuah puisi karangan Wilhelm
Mueller yang juga dibuat musikalisasi oleh Franz Schubert yang berjudul Am
Brunnen vor der Tore juga menyebutkan pohon ini.
„Am Brunnen vor dem Tore, da steht ein Lindenbaum: ich träumt in seinem Schatten so manchen süßen Traum; ich schnitt in seine Rinde so manches liebe
Wort; es zog in Freud und Leide
zu ihm mich immer fort.“
Bahkan sastrawan nomor satu
Jerman, Johann Wolfgang von Goethe pun menuliskan dalam salah satu
briefromannya, Die Leiden des Jungen Werthers bahwa sang tokoh utama cerita,
Werther sangat menyukai pohon Linden dan meminta ketika meninggal dikuburkan di
bawah pohon ini.
Nathaly
berdiri di belakang pria bertubuh jangkung. Pria itu mengenakan kemeja hitam,
ia menjinjing kantong kertas di tangannya. Suaranya terdengar berat. Dengan
rambut yang dipotong cepak, Nathaly mengira-ngira bahwa pria di depannya ini
berumur kepala empat.
Saat pria itu keluar dari barisan mengantri karena telah
mendapatkan pesanannya, Nathaly tersenyum senang. Jawabannya tepat, melihat
pria itu menghampiri seorang wanita dan berbicara sebentar, Nathaly jadi bisa
mengira berapa umurnya.
Suara berat yang menderu-deru keluar dan menghampiri
indra pendengaran Nathaly sejenak, membuatnya mengangguk senang.
Kedua pasangan itu beranjak keluar kedai seraya bergandengan
tangan. Meninggalkan Nathaly yang sedang menatap punggung mereka dengan binar
senang. Senang karena tebakannya terjawab benar.
“Frau.”3
Natahly cepat-cepat
menolehkan kepalanya. Seorang gadis kira-kira berumur tujuh belas tahun
menatapnya hangat. Senyuman tersungging di wajah tirusnya.
“Was möchten Sie
bestellen?”4
_________________________
1.Frau : Nona
2.Was möchten Sie
bestellen? : Anda
ingin pesan apa?
Nathaly
terdiam sejenak mendengar apa yang diucapkan gadis itu. Setelah ingat apa yang
pernah diberitahu oleh Najwa. Nathaly mengangguk samar.
Nathaly menunjuk gambar
kue kering berbentuk daun linden pada daftar menu yang ada di atas meja. Di
kedai roti yang ia ketahui dari Najwa kemarin ini memang menggunakan system
sentuh. Interior kedai yang terasa hangat. Di dalamnya didesain seperti sedang
berada di kebun Linden. Dindingnya di cat dengan gambar pohon linden disemua
musim.
Terdiri dari empat ruangan sesuai dengan empat musim yang
ada di Jerman. Dan saat Nathaly masuk tadi, ia masuk ke dalam pintu bernomor 3.
Suasana guguran daun linden terasa sangat kental.
Dindingnya penuh dengan gambar guguran daun yang berwarna
hijau, kuning dan coklat. Di sebelah kanan dari tempat Nathaly mengantri. Satu
dinding penuh akan proses gugurnya daun linden. Dari daun itu masih berwarna
hijau cerah hingga berwarna coklat tergambar sempurna.
Daun linden sendiri mempunyai bentuk yang sama dengan
bentuk hati. Pohon Linden merupakan salah satu pohon yang multifungsi. Pada
umumnya ia ditanam sebagai pembatas jalan atau penghias taman seperti yang
terdapat pada salah satu jalan utama di Berlin yang bernama Unter den Linden.
Bunganya
menghasilkan banyak madu yang manis untuk makanan lebah. Kayunya juga sangat
berguna untuk kayu bakar dan merupakan salah satu pohon yang baik untuk
ditebang karena ia dapat tumbuh dengan cepat. Pucuk-pucuk mudanya yang lembut
juga seringkali dimasak sebagai salad. Konon katanya pohon ini juga dapat
menyembuhkan penyakit epilepsi dan bunganya sering diseduh dalam teh untuk
minuman relaksasi.
Yang
Nathaly tahu mengenai pohon ini adalah, pada abad pertengahan, kayu pohon
Linden digunakan untuk seni ukir dan pembuatan patung.
Nathaly menyukai tempat ini. Kedai roti yang menciptakan
perasaan tenang di hatinya.
“One kilos please,”
ucapnya.
Gadis itu mengangguk, ia menyentuh layar bergambar roti
kering berbentuk daun linden seperti pesanan Nathaly. Tidak sampai sepuluh
menit, kue kering pesanan Nathaly telah terbungkus rapi. Gadis itu
menyorongkannya kepada Nathaly seraya menyebutkan harga.
Nathaly menerimanya, mengambil beberapa euro dari
dompetnya, ia menggumamkan terima kasih. “Danke
schön.”5
Gadis itu kembali tersenyum, ia mengangguk lalu
mengucapkan terima kasih kembali dan berharap agar Nathaly dapat kembali
berkunjung ke kedai roti mereka.
Nathay berbalik. Ia berjalan keluar kedai. Suara
gemerincing lonceng yang berada tepat di pintu masuk berbunyi saat ia
mendorongnya pelan. Nathaly melangkah pelan, ia berhenti sejenak di tempatnya
berpijak. Aroma kue kering yang baru saja dipesannya menguar sempurna.
Aroma yang khas
yang asing untuk Nathaly. Ia mengangkat kantong kue itu mendekati hidungnya.
Menghirup aromanya. Memenuhi paru-parunya dengan zat baru.
Ia melirik jam tangannya. Senja masih butuh 2 jam lagi
untuk bergulir. Dan Nathaly belum mau kembali ke flatnya. Ia menolehkan
kepalanya ke kanan dan ke kiri.
___________________________
3.Danke
schön: Terima
kasih
Matanya tertuju pada meja berpayung hijau yang berada di
dekat pintu nomor 2. Nathaly mengangguk pelan, sepertinya menunggu senja seraya
duduk di kedai ini bukan pilihan yang buruk. 2 jam bukan waktu yang lama bagi
Nathaly bila ia mendapatkan asupan udara baru.
Mata Nathaly mulai beredar mengamati keadaan kedai roti
ini. Ia baru sadar bahwa meja yang ia duduki ini berada di depan pantry
pembuatan pie. Nathaly bisa melihat 3 orang pekerja yang mengenakan seragam
putih hilir mudik membuatkan pesanan pie.
Aroma pie linden ternyata tidak jauh berbeda dengan pie
yang sering dibuatkan oleh Mamanya. Hanya aroma khas daun linden yang
membuatnya menjadi nilai tambah.
Pantry pie di depannya ini memiliki suasana yang berbeda
dengan kedai yang baru saja ia masuki. Kedai roti berpintu nomor 2 ini
menawarkan suasana musim semi Jerman.
Sama seperti di kedai dengan pintu bernomor 3 tadi, kedai
roti ini juga menghias dinding dalamnya dengan suasana musim semi. Pohon-pohon
linden berjajar rapi di dalamnya. Warna hijau mendominasi keadaan di dalam
kedai nomor 2 ini.
Pucuk-pucuk daun linden menyembul tak aturan. Membuat
sebuah gradasi tersendiri. Serta aroma pie yang menguar bebas membuat siapa
saja yang berada di sekitar kedai ini berhenti sejenak. Menghirup aroma manis
yang ditawarkan.
Aroma pie yang baru saja diangkat menggoda indra
penciuman Nathaly. Gadis itu berinisiatif untuk mencicipinya. Ia berdiri,
melangkah memasuki kedai tersebut.
Kembali suara gemerincing bel terdengar saat ia mendorong
pintu kedai. Aroma pie serta merta menyerbu hidung Nathaly. Mengisi paru-paru
Nathaly dengan zat yang baru lagi.
Gadis itu memilih untuk duduk di dekat pantry pie. Ia
melambaikan tangannya memanggil pelayan. Seorang pelayan yang menggunakan apron
berwarna biru menghampirinya. Apron berwarna biru laut yang tampak begitu
tenang. Sama seperti senyum yang ia lemparkan kepada Nathaly.
Iris
birunya menatap Nathaly dengan teduh, seolah sedang menyuruh cucunya untuk
memilih pie apa yang ingin dimakannya.
Nathaly
membalas senyum teduh itu, diambilnya buku menu yang disodorkan oleh pelayan
dengan senyum itu. Ia menyebutkan pesanannya dan menggumamkan terima kasih.
Membuatnya kembali mendapatkan satu senyum teduh dari pelayan yang kira-kira
telah berumur setengah abad itu.
Nathaly takjub melihat bagaimana kedai ini menghias semua
sudut ruangan mereka. Setelah memilih apa yang ingin ia cicipi. Nathaly kembali
mengedarkan pandangannya. Mengamati setiap sudut yang ada.
Suara gemerincing bel menyita perhatian Nathaly. Membuatnya
memutar kepala dan melihat siapa pelanggan yang baru masuk.
Seorang pria bertubuh jangkung, dengan mantel abu-abu
yang terkesan hangat. Wajah familiarnya membuat Nathaly mendengus tak sengaja,
wajah yangtiga minggu ini ditemuinya setiap hari di
dalam kelas. Ya siapa lagi kalau bukan guru pembimbingnya. Daniel.
Wajah tegas yang entah mempunyai sihir apa, yang selalu
membuat Nathaly memperhatikannya.
Pria itu melangkah menuju tempat mengantri pie. Ia
berbincang sejenak dengan pelayan yang tadi melayani Nathaly. Tawa miliknya mengalun
pelan, memasuki telinga Nathaly dengan samar.
Ia mengangguk terima kasih ketika selesai memesan. Kedua
kakinya menuntunnya ke sudut ruangan yang bertolak dengan meja Nathaly. Ia
duduk dan mulai focus dengan i-phonenya.
Nathaly tersentak. “Duh Nath. What are you doing?” desisnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Menghilangkan semua gambar yang direkam oleh bola matanya sejak tadi.
Entah kenapa, semua yang dilakukan oleh Daniel pasti
menyita perhatiannya secara tiba-tiba. Seolah ada sihir yang menyuruh Nathaly
untuk mengikuti setiap gerak yang diciptakan oleh Daniel.
****
Daniel tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan oleh
uncle James –begitu Daniel memanggilnya- pelayan kedai ini yang sudah bekerja
lebih dari sepuluh tahun.
Ia menceritakan mengenai kejadian yang baru terjadi 30
menit sebelum Daniel datang. Pie-pie yang baru saja matang jatuh berserakan
karena Seat menyandung lantai yang tingginya berbeda. Wajah pemuda itu seketika
pucat mendapati apa yang baru saja terjadi. Ia cepat-cepat membersihkan pie-pie
itu dan membuatkan yang baru sebelum pemilik kedai ini kembali.
Uncle James terpingkal-pingkal menceritakannya. Seorang
pemuda yang selalu mengoceh tentang pentingnya berhati-hati seperti Seat itu
bisa jatuh dengan tidak elitnya hanya karena tidak melihat jalan.
Daniel menimpalinya dengan tertawa pelan. Setelah
mendengarkan cerita Uncle james, Daniel memesan beberapa pie. Malam ini George
akan menginap di apartemennya. Menemani Karel yang merengek memintanya untuk
datang.
Setelah mengucapkan apa yang diinginkannya, Daniel
melangkah menuju meja favoritnya. Meja di pojok kedai yang bertolak dengan
pantry pie.
Matanya menjelajah kedai. Rasanya dalam seminggu ini ia
sudah kemari sebanyak 3 kali. Dan semua itu adalah ulah Karel yang menodongnya
untuk membelikan pie linden.
Daniel tidak habis pikir, mengapa putranya itu begitu
menyukai manis. Padahal ia saja tidak terlalu suka dengan makanan manis. Daniel
trauma, saat ia berumur 10 tahun, saat itu ia sangat senang memakan 4 batang
coklat dalam sehari, giginya sakit. Ia menangis sepanjang malam karena tidak
tahan dengan rasa sakit yang menyerang giginya.
Satu rumah memarahinya. Terutama Papanya. Dan sejak itu
Daniel mulai menjauhkan dan menghapus coklat dari daftar makanannya. Bukan
hanya coklat, tetapi seluruh makanan manis yang ada. Karena ia tidak mau lagi
kena marah Papanya hanya karena makanan manis
Hanya pie dari kedai ini saja yang masih ia konsumsi.
Rasa manisnya tidak terlalu pekat di lidah. Yang menurut Daniel sangat pas
dengan lidahnya yang anti manis.
Daniel duduk di mejanya, ia melihat ke arah pantry pie.
Bermaksud menghirup aroma pie yang baru saja diangkat. Tetapi saat itu juga
matanya melihat Nathaly yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedikit menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas.
Dan memang benar gadis yang duduk di dekat pantry pie itu adalah Nathaly. Gadis
yangselama tiga minggu ini selalu
merecokinya di dalam kelas.
Yang selalu menatapnya tajam ketika ia tidak boleh
dibantah.
Gadis itu masih menggelengkan kepalanya. Ia juga memukul
kepalanya pelan. Daniel hanya mengerutkan keningnya melihat tingkah gadis itu.
Selesai dengan kegiatan menggelengkan kepalanya, gadis
itu pelan-pelan mengangkat kepalanya dan mengedarkan obsidian miliknya ke
seluruh ruangan dengan takut-takut.
Obsidiannya menatapnya dengan intens selama sekian menit.
Tetapi obsidian itu cepat-cepat berpaling ketika menyadari sang objek yang
ditatapnya berbalik menatapnya.
HAH.
APA TADI?
Nathaly menatapnya? Obsidian itu menatapnya? Menatapnya
dengan tepat di sapphirenya? Yang benar saja.
Daniel
memperhatikan satu persatu wajah para peserta kursus yang baru ini. Rata-rata
mereka berumur 18 - 25 tahun. Wajah-wajah segar dan menatapnya dengan binar
terang duduk dengan manis di depannya.
Wajah-wajah penuh minat. Wajah-wajah yang siap menerima
pelajaran mengenai Bahasa Jerman untuk tiga bulan ke depan.
Di pojok kelas, seorang pria dengan kemeja berwarna hitam
dan sweater merah duduk dengan menopang dagu. Di lehernya tergantung bet
pengajar. Wajahnya menampakkan cengiran mengejek ke arah Daniel.
Daniel mendengus tak kentara. Bagus, baru hari pertama
tetapi George sudah menampakkan batang hidungnya di kelas perkenalan.
Menatapnya dengan cengiran jahil. Daniel tak habis pikir, bagaimana bisa
manusia satu itu tak memiliki kelas.
Padahal institute tempatnya mengajar, untuk musim ini
membuka 4 kelas baru. Mengingat jumlah peserta yang semakin banyak dan semakin
berminat untuk belajar di tempat kursus ini.
Daniel mengangkat wajahnya saat mendengar siulan pelan
dari George. Alisnya menaik satu saat George mengangkat selembar kertas.
“I’M FREE SIR.
Jangan memasang wajah seperti itu, atau kau mau murid-muridmu kabur =D”
Daniel melotot saat George tertawa pelan. Ia melemparkan
tatapan tajam kepada George, yang hanya dibalas dengan juluran lidah.
Terkadang Daniel tidak bisa menebak ekspresi apa yang
akan tercipta di wajah mulus tanpa jerawat milik sahabatnya itu. Selalu ada
yang baru. George adalah seseorang yang susah ditebak. Mempunyai segala macam
cara untuk menunjukkan apa yang sedang dirasakannya.
Semua yang ada di dalam kelas serentak menolehkan kepala
kearah pintu masuk. Suara ketukan terdengar di balik pintu itu. Mereka menatap
dengan bingung. Sama dengan Daniel, ia melirik jam tangannya. Kelas sudah mulai
sejak 10 menit yang lalu. Dan sekarang siapa yang ada di luar sana.
Kebingungan mereka semua sirna saat seorang gadis masuk
ke dalam. Ia mendekap satu buku besar. Buku panduan yang diberikan oleh
institute kursus ini. Wajahnya menunduk.
Daniel tidak bisa melihat wajah gadis yang baru masuk ini
karena sebagian poni gadis itu menutupi wajahnya. Gadis itu melangkah ke depan
Daniel.
Hanya harum parfum gadis itu saja yang merasuki indra
penciuman Daniel. Aroma yang terasa begitu asing untuknya. Tetapi ada sesuatu
yang familiar saat Daniel menghirupnya. Entahlah.
Ia mengangkat kepalanya. Bola mata obsidiannya menatap tepat
di manik mata Daniel.
Membuat Daniel terpaku sesaat.
Obsidian.
Kelam.
Indah.
Tiga
kata itu meluncur tanpa rencana dari kepala Daniel. Mata gadis itu sedikit
sipit. Obsidian bening bersembunyi di dalamnya. Bulu mata yang lumayan lentik
memperindah tampilannya.
“Maaf
sir saya terlambat.” ucapnya.
Daniel
tersentakdari lamunannya. Ia masih
menatap intens obsidian itu. Menyerang balik dengan kilau sappirenya. Seolah
menembus segala hal yang bersembunyi di balik bola mata sekelam malam itu.
Lagi-lagi
Daniel tersentak. Kali ini ia sedikit menunduk dan mengambil kertas yang
disodorkan oleh gadis itu. Ia membaca sebaris kata yang berada di bagian atas
kertas.
Tiga
kata yang dicetak jelas. Digaris bawahi.
Nathaly Tjandra O.
Begitu
yang tertulis disana. Daniel terpekur sejenak, nama ini bukan nama orang
Jerman. Tjandra, gumamnya.
“Sir,”
Suara
tegas yang meluncur dari gadis itu menginstrupsinya. Daniel menaikkan
kacamatanya dengan ujung telunjuk. Ia mengamati gadis itu dengan teliti.
Memperhatikan dari atas hingga bawah.
Angkuh.
Cetus
otaknya tiba-tiba. Ia tahu bagaimana obsidian itu menatapnya tajam. Ia tahu
gadis di depannya ini merasa risih diperhatikan seperti itu. Ia tahu bibir
gadis itu sudah gatal ingin membentaknya.
Daniel
tersenyum, ia suka cara gadis ini menatapnya. Tatapan kelam yang seolah siap
menelannya bulat-bulat.
“Kau
bisa mencari kursi yang kosong nona. Atau kau ingin berdiri di sini sepanjang
saya mengajar?” ujar Daniel dalam Bahasa Inggris. Nada suara penuh akan godaan.
Ia tahu, tidak semua murid yang mendaftar pada kelas Bahasa Jerman dasar
mengerti tentang Bahasa Jerman.
Nathaly
melongos. Ia menghentakkan kakinya kesal dan berbalik. Berjalan ke belakang
kelas dimana tersisa satu kursi kosong. Kursi di pojok, dekat dinding, dimana
di sebelahnya duduk seseorang dengan sweater merah.
Ia meletakkan buku
diktatnya dengan asal. Menghasilkan bunyi berdebum yang lumayan keras. Membuat
sebagian peserta yang akan menjadi teman selama tiga bulan mendatang menoleh ke
arahnya.
Nathaly hanya tersenyum acuh. Ia lantas cepat-cepat duduk
saat Daniel menatapnya dari depan.
Nathaly tidak suka dengan guru di depan sana. Songong, batinnya kesal.
Nathaly menoleh ke sebelah kiri. Pria yang duduk di
sebelahnya ini mengulurkan tangan kepadanya, ia tersenyum. Memperlihatkan
sebuah gigi gingsul miliknya. Membuat senyum yang ia berikan kepada Nathaly
menjadi sedikit berbeda.
Nathaly menyambut uluran tangan itu. Ia mengangguk saat
pria di sampingnya itu menyembutkan nama.
“George.”
“Nathaly.” balasnya.
“Tidak
usah diambil hati sikap Dan itu. Ia memang seperti itu,” ucap George tiba-tiba.
Nathaly hanya mengerutkan keningnya bingung.
Sok akrab sekali,
sinisnya dalam hati.
“Ia memang suka memperhatikan seseorang dengan detail.
Tapi kau tenang saja Nath, Dan bukan orang yang jahat.” Lanjut George.
Natahly hanya menatapnya sejenak, tidak terlalu
mendengarkan apa yang diucapkan oleh pria di sampingnya ini. Fokus dirinya
hanya untuk seseorang di depan sana. Seseorang yang mulai menjelaskan pelajaran
dasar dalam bahasa Jerman. Nathaly lebih tertarik dengan bahasan yang sedang
berlangsung sekarang, daripada mendengarkan celotehan tidak jelas mengenai guru
barunya itu.
Dan apa itu? Seenaknya saja pria ini memanggil namanya
seperti itu. Mereka saja belum kenal terlalu lama. Tetapi pria itu sudah berani
memanggilnya dengan nama kecilnya.
Nathaly hanya mendengus. Bertambah satu orang lagi yang
masuk dalam daftar seleksi orang-orang menyebalkan miliknya.
****
Nathaly meneguk air mineralnya dengan cepat. Mengisi
tenggorokannya yang kering. Ternyata tidak di Indonesia, tidak di Jerman. Ada
saja orang yang merupakan duplikat kakaknya.
Apa sifat yang dimiliki oleh Saka itu juga dimiliki oleh
banyak orang? Apa semua orang menyebalkan itu harus berada di sekelilingnya?
Tidak Saka, tidak Daniel, tidak George semuanya sama saja. Sama-sama
menyebalkan dan sama-sama membuat Nathaly mengomel panjang lebar.
Nathaly berdiri dan membuang botol air mineralnya yang
telah kosong. Ia berjalan lagi menuju counter penjual minuman. Membeli sebotol
lagi air mineral. Sekarang ia butuh beberapa liter air untuk menghilangkan
perasaan kesal yang bercokol di hatinya.
Nathaly pikir saat ia datang terlambat tadi ia tidak akan
diberi hukuman apa-apa. Padahal sebelumnya Daniel memperbolehkannya duduk
begitu saja. Mengacuhkannya. Tetapi ternyata tebakannya salah. Di tengah-tengah
pelajaran Daniel memanggilnya. Menyuruhnya maju ke depan. Berdiri dengan tegap
dan menghadap semuanya. Lalu setelah itu menyuruh Nathaly memperkenalkan diri
dalam bahasa Jerman. Apabila Nathaly tidak bisa, maka poin miliknya akan
dikurangi 100.
Di institute kursus tempat Nathaly mengambil kelas Bahasa
Jerman memang menerapkan system poin. Dalam satu minggu, setiap peserta kursus
memiliki 1000 poin. dimana poin-poin tersebut akan dikurangi sesuai dengan
kesalahan masing-masing dari mereka.
Di setiap kelas terdapat satu dinding khusus yang di
dalamnya terdapat layar poin. Dinding yang dibuat khusus dengan sedikit
menjorok ke dalam. Layar poin itu hanya bisa digunakan oleh setiap pengajar
yang berada disana. Masing-masing pengajar mempunyai kode layar tersendiri. Dan
mereka semua berhak mengurangi poin setiap peserta seseuai dengan kesalahan
yang mereka perbuat.
Layar poin yang menjadi musuh besar para peserta semester
akhir. Karena apabila mereka memiliki banyak kesalahan dan membuat poin mereka
menjadi minus. Maka setiap peserta harus membuat sebuah essay sebanyak 350
lembar dalam Bahasa Jerman.
1000 poin yang diberikan dalam seminggu akan diakumulasikan
dalam sebulan. Apabila sisa poin peserta tidak mencapai 500 poin, maka mereka
harus membuat essay sepanjang 5 lembar.
Hal itu membuat semua peserta yang mengambil kelas di
institute kursus ini harus berhati-hati. Menjalankan kelas mereka dengan baik
dan tertib. Atau sebagai konsekuensinya bila melakukan kesalahan, poin-poin
mereka akan dikurangi saat itu juga.
Saat itu Nathaly langsung membelalakkan matanya. Yang
benar saja, baru 30 menit ia mengikuti kelas sudah harus melakukan hal itu.
Padahal Daniel baru mengajarkan hal-hal dasar saja. Seperti mengucapkan
‘selamat pagi’, ‘selamat siang’, ‘halo’ dan lain sebagainya.
Ia belum menjelaskan bagaimana cara memperkenalkan diri
dengan benar. Nathaly merutuk dalam hati, kalau seperti ini adanya lebih baik
ia diberi hukuman saat datang tadi. Bukannya di tengah-tengah pelajaran yang
membuatnya menjadi tontonan satu kelas.
Nathaly mengumpat Daniel dalam hati. Ia mengumpat
habis-habisan. Kepalanya mulai berdengung karena bingung. Suara Daniel yang
menyuruhnya cepat membuat Nathaly semakin resah.
Ia berpikir keras. Mencari-cari kosakata Jerman yang tersimpan
di dalam kepalanya. Jangan diremehkan, selama setahun Nathaly pernah diikutkan
kursus Bahasa Jerman oleh Mamanya. Tetapi saat memasuki tahun kedua Nathaly
cepat-cepat membujuk Mamanya untuk menghentikan kursus itu. Ia tidak kuat.
Tidak ada sama sekali minat dalam dirinya.
Setelah mendapatkan sedikit ingatan tentang perkenalan
diri yang dulu pernah diajarkan. Nathaly memulai memperkenalkan dirinya.
Patah-patah karena ia lupa.
Sesekali suara lantang Daniel menginstrupsinya.
Membenarkan apa yang diucapkan Nathaly. Tetapi semua itu tidak berlangsung lama
karena Daniel langsung menyuruhnya berhenti dan duduk. Lalu menggaris bawahi
nama Nathaly di absen kelas. Di pojokan absen Daniel menulis angka 50
besar-besar. Tanda poin Nathaly dikurangi.
Nathaly menggeram kesal. Ini baru hari pertamanya. Tetapi
guru itu sudah memberikannya kesan jelek.
Lihat saja nanti.
Batin Nathaly menggebu-gebu.
Ia
melangkah kembali ke tempatnya duduk tadi. Membuka buku diktatnya dan melingkar
besar-besar materi yang akan dipelajari besok. Sebelum keluar kelas tadi,
Daniel telah memberi tahu semua peserta materi apa yang akan mereka pelajari
besok.
Asik dengan kegiatannya, Nathaly tidak mendengar suara
baki yang beradu dengan meja. Saat suara lembut seseorang mengudara, Nathaly
mengangkat kepalanya.
Ia
termangu sejenak. Matanya diberi pemandangan indah. Seorang gadis dengan bola
mata bulat besar, bermanik coklat menatapnya. Ia memiliki rambut sebahu
berwarna hitam, wajahnya bulat. Bentuk wajah yang familiar bagi Nathaly.
Gadis
itu tersenyum, dua lesung pipi otomatis tercetak di wajahnya. “Wenn ich konnte hier sitzen?”1ucapnya.
Suara
gadis itu mengudara, terdengar renyah di telinga Nathaly.
Kening Nathaly mengerut mendengar ucapan gadis itu. Ia
cepat-cepat membenahi duduknya. Menutup buku diktatnya dan menatap gadis itu.
“English please.”
Gadis itu tersenyum lagi, “Do you mind if I sit here?”
“Ah. Silakan.” balas Nathaly.
Gadis itu menaruh tas selempangnya. Kemudian ia duduk di depan
Nathaly, mendekatkan baki berisi sepiring roti dan sekaleng jus.
_____________________________
1.Wenn
ich konnte hier sitzen? : Apakah aku boleh duduk disini?
“Kamu
yang tadi maju ke depan kelas kan?” gadis itu bertanya tiba-tiba.
Blush.
Wajah Nathaly langsung memerah. Ia menunduk dan menarik
nafas untuk menghilangkan rasa kagetnya. Ternyata ada saja yang
memperhatikannya saat di kelas tadi. Nathaly berdeham. “Ya.” jawabnya pelan.
Gadis
itu tertawa pelan, ia mengulurkan tangan dan kembali tersenyum. “Ich heisse Najwa.”2 Ia memperkenalkan
diri.
Nathaly menyambut uluran tangan itu, entah berasal dari
mana, saat melihat senyum Najwa, ia merasakan suatu perasaan tenang. Mungkin
saja gadis di depannya ini bisa menjadi teman baiknya selama di Jerman.
Karena selama ini Nathaly tahu, ia tidak mudah untuk
dekat dengan seseorang yang baru dikenal. Ia bisa merasakan yang mana yang
ingin berteman baik dengannya atau yang hanya ingin berteman dengannya karena
kebutuhan mereka.
“Nathaly,” balasnya.
“Hei kita sama-sama memiliki nama dengan awalan ‘N’.”
seru Najwa girang. Ia terkekeh. Tangannya menangkup roti dan menggigitnya.
Tentu setelah mereka selesai berjabat tangan.
Nathaly ikut tertawa. “Yeah kau benar.”
“Hmm Nath. Can I
call you like that?”
“Of course. What?”
_____________________________
2.Ich
heisse Najwa: Namaku Najwa
Najwa menaruh rotinya lalu menatap Nathaly serius.
Nathaly menaikkan alisnya. Melihat tatapan Najwa yang seperti itu
mengingatkannya akan wajah Seira. Sahabatnya yang tinggal di Samarinda.
“Kenapa kamu tadi bisa terlambat?”
Mata Nathaly membulat sempurna. Bila gadis di depannya
ini adalah Seira, mungkin saat ini juga Nathaly akan menarik kedua pipinya dan
menjitaknya. Ia buru-buru menghela nafas, yang benar saja. Hanya bertanya
seperti itu saja, Najwa harus menatapnya serius. Aneh-aneh saja.
“Hei Nath jawab.” Desak Najwa.
Nathaly menatap Najwa dengan serius juga. Ia memajukan
wajahnya, memberikan jarak pandang yang begitu dekat. Dengan jarak sedekat ini
Nathaly bisa melihat warna mata Najwa dengan jelas. Coklat terang, seperti
milik Hana. Nathaly juga bisa mencium aroma strawberry dari gadis itu, entah
harum tubuhnya atau harum parfum yang ia kenakan atau mungkin harum shampoo
yang gadis ini gunakan.
Cara
Nathaly menatapnya dengan begitu serius malah membuat Najwa menjadi semakin
penasaran. Gadis itu memasang telinganya baik-baik.
“Karena
aku tersesat.” ucap Nathlay pelan nyaris berbisik.
Najwa memundurkan wajahnya cepat-cepat. Menatap Nathaly
dengan kesal. Sementara Nathaly, ia tertawa pelan mendapati wajah shock Najwa
karena mendengar jawabannya.
****
“Hei Dan. Kau serius mengurangi poin anak baru itu?” buru
George. Sejak tadi ia bertanya tetapi hanya diacuhkan oleh Daniel. Pertanyaan
yang diajukan George sejak keluar kelas Daniel hingga masuk ke dalam ruang
kerja mereka.
Daniel tidak menghiraukan pertanyaan George. Ia tetap
menyusun daftar nama-nama murid baru yang akan menjadi muridnya selama 3 bulan
ke depan. Menyusunnya menurut abjad, lalu merapikannya ke dalam filing cabinet.
“Daniel dengar tidak sih?” teriak George kesal. Cape tahu
kalau tidak didengar itu. Benar-benar ya Daniel ini, kalau mendengar itu
menjawab bisa tidak sih.
“Ya ya George aku dengar. Duduk. Aku bosan melihat mu
mondar-mandir seperti itu.”
George menarik kursi di depan meja Daniel dengan gusar.
Ia menatap Daniel yang akhirnya berhenti mengerjakan pekerjaannya. Jemarinya
mengetuk-ngetuk meja, menciptakan nada asal.
Daniel melepas kacamatanya, menaruhnya di atas tumpukan
kamus Bahasa Jerman. Ia menarik laci di sebelah kiri tangannya. Laci nomor
satu, dimana ia menyimpan kotak kamacatanya.
Ia mengambil lap kacamatanya lalu membersihkannya.
Kemudian menatap George dengan sedikit menyipit.
“Kau bertanya apa tadi Ge?” tanyanya seraya memanggil
George dengan nama kecilnya.
George menggeram, ia melayangkan satu jitakan ke kepala
Daniel.
“Ouch.” Rintihnya. Ia membelalakan mata, memelototi
George. Yang berani menjitaknya hanya manusia jelek di depannya ini saja.
“Kau bilang tadi mendengarku. Kenapa sekarang balik
bertanya?” George hampir berteriak mengucapkannya. Daniel ini benar-benar
membuatnya kesal.
“Iya iya Ge. Tidak usah marah-marah seperti itu, aku
mendengar kok, hanya..” belum selesai Daniel berbicara, I-phonenya berbunyi
nyaring, meraung-raung untuk segera diangkat. “Sebentar…”
George mendengus keras-keras. Siapa lagi sekarang yang
mengganggu? George melotot saat Daniel tersenyum mengejek. Sahabatnya itu lebih
memilih menjawab telponnya ketimbang menjawab pertanyaannya.
“Ya dear,” seru Daniel.
George menaikkan alisnya, heh dear? Memangnya siapa yang
menelpon Daniel hingga pria itu menyerukan sebutan itu?
“Iya sebentar lagi Daddy pulang. Karel jangan membuat
Aunty Eryn susah, ok?”
Ah George tahu, ternyata Karel yang menelpon. Bicara soal
Karel, ia jadi merindukan bocah kecil itu. Bocah aktif yang bisa membuat Daniel
pusing karena ulahnya. Dan membuat Daniel panik tidak karuan saat tahu Karel
demam.
George berdiri, ia melangkah dan berputar. Mengambil satu
frame foto di atas meja kerja Daniel, frame yang berisi foto Karel. Foto bocah
itu yang diambil Daniel saat musim semi kemarin. Karel berdiri di bawah pohon
linden dengan gulali besar di kedua tangannya.
George tahu betapa sukanya Karel akan makanan manis itu.
Bocah itu akan menangis lama bila Daniel tidak memberinya izin untuk memakan
gulali. Dan Daniel pun akan semakin tidak memberi izin bila tangis Karel tidak kunjung
berhenti.
Terkadang George kasihan melihat Karel. Bocah itu akan
berlari kepadanya dan mengadukan hal-hal yang membuatnya menangis. Cara Daniel
mendidiknya sedikit keras. Sehingga sering membuat Karel menangis. Tetapi
dibalik semua didikan yang Daniel beri, sahabatnya itu amat sangat menyayangi
Karel. Ia akan mengorbankan apapun agar putranya ini dalam keadaan baik.
George mengalihkan pandangannya sejenak. Menetap Daniel
yang sedang mengerutkan kening. Menasehati putranya yang sedang dalam masa
aktif-aktifnya.
“Dengar Daddy.
Jangan berlari kesana kemari dan menghamburkan mainan Andrio. Kau itu masih
demam, dengar?”
“Tidak. Aku punya nomor telpon Daddy sendiri. Aunty
sedang pergi.”
Daniel menatap i-phone-nya dengan horror. Ia cepat-cepat
menyuruh Karel untuk menutup sambungan ini. Atau bisa dipastikan, saat ia
menjemput Karel nanti. Erynina akan menggantungnya hidup-hidup.
“Tutup telponnya cepat. Sebentar lagi Daddy pulang.” Perintahnya.
Di sebrang sana Daniel mendengar suara menderu-deru,
suara Andrio yang menirukan bunyi mobil tank. Lalu disusul dengan suara nyaring
Karel yang berteriak agar tank miliknya tidak ditabrak.
“Tutup telponnya Karel.” Daniel berkata dengan tegas. Ia
masih ingin hidup, ia tidak mau mendengar omelan super panjang dari Erynina
karena kuota telponnya berkurang banyak.
Daniel mengusap wajahnya frustasi, disaat seperti ini
Karel malah bertanya seperti itu. God,
desisnya.
“Daddy
merindukan mu. Sekarang tutup telponnya. Atau pie lindennya tidak jadi Daddy belikan?” ancam Daniel.
“Jangaaaaaaan. Aku tutup. Love you Dad.”
Hah. Akhirnya ditutup juga. Daniel menghela nafas lega,
tetapi tidak secepat itu ia bisa kembali duduk. Ia cepat-cepat mencari nomor
telpon Erynina dan menelponnya. Kalau tidak. Huh Daniel malas membayangkan.
George menatap Daniel bingung. Hanya menerima telpon dari
putranya saja ia harus memasang wajah frustasi seperti itu. Sekarang menelpon seseorang
dengan mengacak-acak rambut. Mirip seperti orang yang dikejar rentenir saja.
“Ah Eryn.”
“George jangan angkat telpon dari nomor rumah Eryn,”
teriaknya lalu kemudian berlari keluar ruangan. George menaikkan alisnya melihat
tingkah aneh Daniel. Ia menaruh frame foto itu dan menyunggingkan senyum saat melihat
senyum ceria Karel disana.
Tidak lama, ponselnya berbunyi. Nama Erynina tertera
disana. George menimang-nimang untuk mengangkatnya atau tidak. Tetapi saat
wajah mengejek Daniel terlintas di kepalanya. George tersenyum jahil.