Karena sesuatu yang berhubungan dengan masalah cinta.
Itu adalah masalah hati.
Ketika ada pertanyaan tentangnya, cara terbaik adalah menanyakannya ke hati.
Di bidang musik, Jerman klaim beberapa komposer klasik
paling terkenal di dunia termasuk Bach, Mozart dan Beethoven, yang menandai
transisi antara era klasik dan Romantis dalam musik klasik Barat. komponis lain
dari tradisi Austro-Jerman yang mencapai ketenaran internasional termasuk
Brahms, Wagner, Haydn, Schubert, Handel, Schumann, Liszt, Mendelssohn
Bartholdy, Johann Strauss II, Bruckner, Mahler, Telemann, Richard Strauss,
Schoenberg, Orff, dan yang terakhir , Henze, Lachenmann, dan Stockhausen.
Pada 2006, Jerman adalah pasar musik kelima terbesar di dunia [10] dan
telah diberikan pengaruh yang kuat pada Tari dan musik Rock, dan memelopori
musik trance. Seniman seperti Herbert Grönemeyer, Scorpions, Rammstein, Nena,
Dieter Bohlen, Tokio Hotel dan Modern Talking telah menikmati ketenaran
internasional. musisi Jerman dan, khususnya, pita perintis Tangerine Dream dan
Kraftwerk juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan musik elektronik.
[11] Jerman host banyak festival musik rock yang besar setiap tahunnya. The
Rock am Ring Festival adalah festival musik terbesar di Jerman, dan di antara
yang terbesar di dunia. seniman Jerman juga membuat sebuah persentase besar
dari tindakan musik industri, yang disebut Neue Deutsche Harte. Jerman host
beberapa adegan Goth terbesar dan festival di seluruh dunia, dengan acara
seperti Wave-Gothic-Treffen dan M'era Luna Festival mudah menarik sampai dengan
30.000 orang. artis terkenal antara Jerman ada penghibur berbagai Belanda,
seperti Johannes Heesters, Rudi Carell dan Sylvie van der Vaart
>>
Agama
64,1 persen dari populasi Jerman milik denominasi Kristen. 31,4 persen
adalah Katolik Roma, dan 32,7 persen berafiliasi dengan Protestanisme [14]
(angka-angka yang diketahui secara akurat karena Jerman memberlakukan pajak
gereja pada mereka yang mengungkapkan afiliasi keagamaan / tetapi ada banyak
orang, yang religius tetapi belum terdaftar [kutipan diperlukan]). Utara dan
Timur ini sebagian besar Protestan, Selatan dan Barat bukan Katolik. Saat ini
ada mayoritas non-agama di Hamburg dan negara-negara Jerman Timur [15] Jerman
membentuk sebagian besar Katolik Roma Kekaisaran Romawi Suci, tetapi juga
sumber reformis Protestan seperti Martin Luther.. Secara historis, Jerman
memiliki penduduk Yahudi yang cukup besar. Hanya beberapa ribu orang asal
Yahudi tetap di Jerman setelah Holocaust, tetapi komunitas Yahudi Jerman sekarang
memiliki sekitar 100.000 anggota, banyak dari Uni Soviet. Jerman juga memiliki
minoritas Muslim yang besar, sebagian besar berasal dari Turki.
Teolog Jerman termasuk Luther, Melanchthon, Schleiermacher, Feuerbach, dan
Rudolf Otto. Jerman juga dibesarkan mistikus, termasuk Meister Eckhart, Rudolf
Steiner, Jakob Boehme, dan beberapa paus (misalnya Benediktus XVI).
>> Olah Raga
Olahraga merupakan bagian integral dari kehidupan
Jerman, seperti yang ditunjukkan oleh fakta bahwa 27 juta penduduk Jerman adalah
anggota klub olahraga dan tambahan dua belas juta mengejar kegiatan seperti ini
secara individual [16] Football sejauh ini merupakan olahraga paling populer,.
dan Jerman Federasi Sepak Bola (Deutscher Fußballbund) dengan lebih dari 6,3
juta anggota adalah organisasi olahraga terbesar di negara tersebut. [16] Hal
ini juga menarik penonton terbesar, dengan ratusan ribu penonton menghadiri
pertandingan Bundesliga dan jutaan menonton di televisi. Dua lainnya olahraga
paling populer di Jerman adalah keahlian menembak dan tenis diwakili oleh
Federasi Jerman Keahlian menembak dan Federasi Tenis Jerman masing-masing, baik
termasuk lebih dari satu juta anggota. Olahraga populer lainnya meliputi bola
tangan, voli, basket, dan hoki es. [16] Jerman secara historis menjadi salah
satu pesaing terkuat di Olimpiade. Dalam Olimpiade 2008, Jerman selesai kelima
secara keseluruhan, [17] bahwa dalam Olimpiade Musim Dingin 2006 Jerman
Budaya suku manggarai yang berada di indonesia
tepatnya di pulau flores nusa tenggara timur
Budaya Manggarai
RAGAM BUDAYA MANGGARAI
Pada umumnya gambaran masyarakat Manggarai bisa dilihat dari corak maupun ragam
budayanya yang tercermin dalam berbagai sistem atau sub-sistem yang berlaku.
Beragam sub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yang dapat memperlihatkan
bagaimana sesungguhnya corak kebudayaan di Manggarai. Sub-sistem yang hidup
dalam masyarakat Manggarai yaitu sub-sistem religi, sub-sistem organisasi,
sub-sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian atau ekonomi,
sistem teknologi.
1. Religi
Secara umum, sistem religi asli orang Manggarai adalah monoteis implisit,
dengan dasar religinya yakni menyembah Tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuasa (mori
jadi dedek – Ema pu’un kuasa), meski masih terdapat cara-cara dan tempat
persembahan misalnya, compang (mesbah) juga terkadang di bawah pohon-pohon
besar yang dipandang angker dan suci.
Compang (Mesbah)
Yang didirikan di tengah kampung karena menurut kepercayaan orang Manggarai di
sana berdiamlah Sang Naga Beo (kekuatan pelindung) yang menjaga ketentraman
warga kampung setiap waktu. Compang itu berbentuk bulat maksudnya atau
mengandung makna kekerabatan, sehingga dalam upacara adat Manggarai sering
diungkapkan kalimat sebagai berikut:
Muku ca pu’u toe woleng curup (kesatuan kata)
Ipung ca tiwu neka woleng wintuk (kesatuan tindakan)
Teu ca ambong neka woleng lako (kesatuan langkah)
Wujud nyata dari prinsip ini nampak dalam kegiatan leles, kokor tago, dan
lain-lain. semuanya menekankan persaudaraan, kebersamaan, dan kekeluargaan.
Di dalam masyarakat Manggarai, khususnya berkaitan dengan religius tumbuh dan
berkembangnya upacara-upacara adat yang berkaitan untuk menyebut nama Tuhan
atau wujud tertinggi misalnya :
* Dalam acara penti, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi:
- Lawang morin agu ngaran
Artinya untuk minta pengukuhan dari Tuhan sebagai pemilik atau pemberi atas
benih atau tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh manusia. sehingga dalam adat
Manggarai, diadakannya pesta penti (syukuran) kepada Tuhan atas pemberiannya
itu.
* Dalam upacara kematian, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi
:
- Kamping morin agu ngaran
2. Sistem Organisasi Sosial atau Kemasyarakatan
1. Lembaga adat atau tua adat
* Gendang
A. Sejarah berdirinya gendang
Secara etimologis, gendang adalah alat musik tradisional Manggarai sejenis
drum. Sedangkan secara esensial, gendang adalah lembaga kekuasaan dari suatu
masyarakat hukum adat. Seperti masyarakat hukum adat Gendang Mano, Gendang
Alang Mano, Gendang Lame, dan Gendang Bea Laing. Sehingga secara umum Gendang
adalah nenek moyang dari masyarakat hukum adat tertentu beserta keturunannya
yang berkuasa untuk memerintah seluruh masyarakat hukum adat tertentu dan
berkuasa atas wilayahnya.
Dalam hal terbentuknya gendang, walaupun memiliki sejarah tersendiri tetapi
melihat struktur lembaga hukum adat yang berlaku sampai sekarang di Kabupaten
Daerah Tingkat II Manggarai, maka gendang dibentuk atau diadakan oleh Gelarang
yang tugasnya untuk menyelesaikan sengketa tanah atau lingko yang timbul antara
gendang dan menentukan serta membagikan lingko-lingko kepada setiap kampung
atau gendang.
Cara lain yang membentuk atau mengadakan gendang adalah sebagai akibat
memenangkan perang atau menguasai suatu wilayah kosong.
Gendang Mano yang dimaksud dalam penelitian ini dibentuk setelah menguasai
suatu wilayah kosong yang telah ratusan tahun ditinggalkan. Wilayah kosong ini
ditemukan oleh nenek moyang orang Mano yaitu suku Kuleng. Suku ini kemudian
membentuk Gendang’n one lingko’n pe’ang yang berdiri sampai saat ini. Perlu
juga diketahui bahwa nenek moyang pertama yang menguasai wilayah Mano adalah
Empo Mbak. Empo Mbak ini adalah pelarian atau orang buangan dari suku
Minangkabau sebagai akibat perebutan kekuasaan. Dalam legenda orang Manggarai,
Empo Mbak ini adalah seorang keturunan raja Minangkabau.
Dalam perkembangannya, karena memiliki lingko yang luas dan banyak maka Gendang
Mano memberikan (widang) suatu lingko kepada orang Alang sebagai tanda
persaudaraan.
Kemudian terbentuklah gendang’n onen lingkon’n pe’ang, dari Gendang Alang Mano.
Demikian juga dengan Gendang Bea Laing yang disebut dengan Gendang Ase Ka’e
(famili, sanak saudara), karena sebenarnya Bea Laing berasal dari suku Pau
Ruteng. Atas kebaikan orang Mano mereka lalu diberikan untuk menghuni wilayah
Bangka Pau di Mano kemudian pindah ke Mera Mano. Karena perkembangan akhirnya
mereka pindah ke Bea Laing untuk menetap, dan melalui perkawinan maka
terjadilah hubungan dengan masyarakat Gendang Mano, karena melalui suatu
kebijaksanaan maka Gendang Mano memberikan lingko kepada suku Pau Ruteng.
Sedangkan terbentuknya Gendang Lame atau gendang widang (pembagian) adalah
gendang pembagian kepada saudari perempuan atau kepada anak mantu.
Maka Gendang Mano membagi lingko untuk mendirikan Gendang Lame. Serta lembaga hukum
adatnya yaitu Gendang’n onen lingko’n pe’ang.
Sehingga hubungan antara Gendang Mano dan ketiga Gendang tersebut sangat erat
dan harmonis dan ketiga Gendang yang dibentuk tetap tunduk dan taat kepada
Gendang Mano, seperti dalam hal sebagai berikut :
- Ketiga Gendang harus tunduk dan taat kepada perintah dari Gendang Mano dalam
hubungan adat istiadat mengenai lingko.
- Apabila ketiga Gendang tersebut membagi moso atau lodok (membagi tanah per
keluarga), Gendang Mano harus mendapatkan juga satu bagian sebagai Gendang
induk.
- Masyarakat dari kegita Gendang harus hadir apabila dipanggil oleh Tu’a
Gendang Mano sehubungan dengan pesta penti.
B. Fungsi, tugas dan struktur organisasi gendang
Pada dasarnya fungsi, tugas dan struktur organisasi gendang yang ada di
Manggarai sama.
a. Fungsi organisasi gendang :
- Menegakkan sejarah garis keturunan.
- Mempertahankan kekuasaan gendang.
- Mempersatukan warga gendang.
- Menata kehidupan sosial warga gendang.
- Mempertahankan kepemilikan tanah dan mengatur pembagiannya.
- Membentuk pertahanan yang kuat dalam menghadapi musuh.
b. Tugas organisasi gendang :
- Menjaga dan memelihara kesinambungan keberadaan keturunan gendang.
- Menata ketertiban sosial bagi kehidupan warga gendang.
- Memasukkan kehidupan bersama warga gendang.
c. Struktur organisasi gendang
Sebagai tambahan, saya mulai saja dengan melihat kembali sejarah pemerintahan
di Manggarai sejak zaman pemerintahan Goa, Bima dan pemerintahan jajahan
Belanda.
Membaca dan melihat struktur pemerintahan tersebut jelas terlihat bahwa Raja
membentuk dan mengangkat Dalu yang kemudian dinamakan Haminte sampai dengan
tahun 1968. Kemudian Dalu membentuk Gelarang yang fungsi dan tugasnya
menentukan dan membagi-bagikan Lingko kepada setiap kampung atau gendang serta
menyelesaikan sengketa tanah yang timbul antara gendang di setiap kampung atau
desa. Keadaan ini berlaku hingga saat ini melalui hukum adat Manggarai, tetapi
tidak mutlak untuk membentuk atau mengadakan gendang di setiap kampung.
Keadaan dewasa ini telah menunjukkan bahwa Raja, Dalu dan Gelarang tidak
berperan lagi karena organisasinya telah bubar, yang tertinggal hanyalah apa
yang dinamakan dengan gendang atau lembaga hukum adat yang disebut dengan
gendang’n onen lingko’n pe’ang.
Mengenai struktur organisasi elit tradisional yang dalam penelitian ini adalah
gendang, dapat dilihat pada gambar 2.
Deskripsi jabatan :
1. Tu’a gendang adalah sekelompok orang yang merupakan pendiri gendang dan
keturunannya. Sehingga mereka menguasai Beo (kampung) secara keseluruhan yaitu
gendang’n onen lingko’n pe’ang.
Keturunan pendiri gendang berhak untuk menjadi :
- Tu’a Golo
- Tu’a Teno
- Ata lami gendang (keluarga yang menempati rumah niang atau rumah gendang dan
menjaga serta memelihara).
- Pelaksana ritus gendang yang menentukan penti (syukuran), oli (upacara musim
tanam), wasa (mohon penyuburan), dan paki kaba (persembahan).
Gambar 2
Struktur Organisasi Elit Tradisional
Di Desa Mandosawu
2. Tu’a Golo
Adalah Tu’a yang menguasai golo (kampung)
Pa’ang’n olon, ngaung’n musi (segenap wilayah milik gendang yang bertugas
memimpin rakyat gendang, mengontrol dan menertibkan pelaksanaan adat istiadat
sebagai pedoman hidup seluruh warga gendang dan memberi sanksi bagi yang
melanggar tata tertib gendang.
Yang mengangkat Tu’a Golo adalah Tu’a Gendang. Dia yang diangkat karena turunan
pendiri gendang, mempunyai gesah sebagai pemimpin, taat kepada aturan adat istiadat
dan tidak banyak cacat cela dalam hal moral.
Tugas Tu’a Golo adalah sebagai pemimpin rakyat gendang dalam hal urusan harian
seperti ketertiban warga gendang, menjaga keamanan warga dan kebun warga. Dan
persyaratan menjadi Tu’a Golo adalah orang yang bijaksana, mampu menyelesaikan
masalah dalam wilayah gendang. Dalam musyawarah gendang, dia adalah pemimpin
sidang, khusus di luar kekuasaan Tu’a Teno. Tetapi dia harus taat kepada
kebijaksanaan Tu’a Gendang yang merupakan sesepuh-sesepuh agung gendang. Dan
perlu diketahui bahwa kedudukan Tu’a Golo dan Tu’a Teno adalah sejajar.
3. Tu’a Teno adalah orang yang berasal dari Tu’a gendang dengan tugas
menentukan pembagian tanah yang menjadi hak milik gendang, mengamankan
pelaksanaan pembagian tanah dan melaksanakan ritus pembagian. Sedang yang
menentukan kepemilikan tanah adalah Tu’a Gendang.
4. Tu’a Panga. Panga (bagian atau cabang) adalah sekelompok orang yang
merupakan turunan Tu’a Gendang pada lapisan tertentu yang dipercayakan untuk
mengurus diri berdasarkan kebijaksanaan Tu’a Gendang, Tu’a Golo dan Tu’a Teno.
Tu’a Panga adalah pemimpin atau kepala panga. Panga terdiri dari beberapa Ame
atau keluarga yang berasal dari satu nenek dalam suku tertentu.
5. Tu’a Ame adalah keturunan Tu’a Gendang sesudah lapisan panga dan
dipercayakan untuk mengurus diri. Ame terdiri dari beberapa kilo atau keluarga.
Tu’a Ame adalah pemimpin keluarga.
6. Tu’a Kilo adalah yang mengetahui atau menguasai suatu keluarga. Tu’a Kilo
adalah pemimpin keluarga yang biasanya disandang oleh bapak.
7. Tu’a Wa’u adalah yang mengepalai keturunan pendatang yang telah berkembang
dalam gendang dan menerima pembagian tanah. Pada umumnya mereka memiliki
hubungan dengan gendang karena faktor perkawinan. Walaupun mereka merupakan
keturunan pendatang, namun tetap taat pada tata tertib dan peraturan gendang
yang dihuni.
8. Tu’a Wae Tu’a yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang tertua dari
gendang tersebut. Biasa disebut dengan wae ka’e atau keturunan tertua.
9. Tu’a Wae Koe yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang termuda dalam
gendang. Biasa disebut dengan wae ase atau keturunan termuda.
C. Ruang Lingkup Wilayah Gendang
Wilayah kekuasaan gendang adalah suatu wilayah tertentu dari sebuah kampung
atau desa yang terdiri dari beberapa lingko atau tanah dan setiap lingko
mempunyai tanah sendiri. Wilayah kekuasaan ini nampak dalam sebutan gendang’n
onen atau beon one, lingko’n pe’ang.
Gendang’n one yang dimaksud adalah segenap warga gendang sedangkan lingko’n
pe’ang adalah wilayah yang merupakan tanah (lingko) milik gendang.
* Kekerabatan atau Keluarga Perkawinan
(Menyangkut Anak Wina – Anak Rona)
- Sistem perkawinan menurut adat Manggarai
Menurut adat Manggarai, ada tiga cara atau sistem perkawinan yaitu :
a. Cangkang
Perkawinan di luar suku atau perkawinan antar suku. Dalam bahasa adanya
dikatakan laki pe’ang atau wai pe’ang (anak wanita yang kawin di luar suku).
Orang yang laki pe’ang atau wai pe’ang membuka jalur hubungan baru dengan
suku-suku lain. Dengan itu keluarga besar lebih lebar jangkauan hubungan woe
nelu-nya. Dari praktek orang tua tempo dulu, orang yang laki pe’ang bukan
sembarang orang. Biasanya dari kalangan keluarga yang mampu membayar belis atau
paca. Karena paca itu sendiri bukan cuma soal uang atau hewan, tetapi terutama
soal harga diri dan martabat dari kedua belah pihak, antara keluarga pria dan
wanita.
b. Tungku
Perkawinan untuk mempertahankan hubungan woe nelu, hubungan anak rona dengan
anak wina yang sudah terbentuk akibat perkawinan cangkang. Laki-laiki dan
wanita yang kawin tungku disebut saja laki one dan wai leleng one.
Pemuda yang laki one dapat berarti pria yang kawin tungku, juga berarti
perkawinan terjadi di dalam atau di sekitar kampung asalnya.
Demikian pula terhadap wanita yang wai leleng one. Berbicara tentang paca untuk
orang yang laki one dan wai leleng one tergantung pada jenis tungku.
Menurut adat Manggarai ada beberapa jenis tungku :
- Tungku cu atau tungku dungka
Kawin antara anak laki-laki dari ibu kawin dengan anak perempuan dari saudara
itu atau om.
- Tungku nereng nara
- Tungku anak de due
- Tungku canggot
- Tungku ulu atau tungku sa’i
- Tungku salang manga
- Tungku dondot
c. Cako
Perkawinan dalam suku sendiri. Biasanya anak laki-laki dari keturunan adik dan
anak perempuan dari keturunan kakak. Disebut juga sebagai perkawinan cako cama
tau. Perkawinan cako biasanya orang tua mulai mencobanya pada lapisan ketiga
atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga. Mengapa dikatakan mencoba?
Karena menurut adat Manggarai, tidak semua perkawinan cako direstui mori agu
ngaran. Orang Manggarai percaya bahwa Tuhan-lah yang menentukan apakan
perkawinan itu direstui atau tidak. Ada bukti bahwa perkawinan cako tidak
direstui, bahwa kedua insan yang menikah itu mati pada usia muda sebelum
memperoleh anak.
Perkawinan cako cama salang artinya perkawinan yang dilangsungkan dengan sesama
anak wina. Dalam konteks ini belis tidak dituntut sesuai dengan kemampuan kita.
Berlaku ungkapan tama beka salang agu beka weki.
* Arti anak wina dan anak rona
Dalam konteks sosial budaya Manggarai yang disebut anak rona berasal dari
keturunan pria atau yang disebut ata one. Sedangkan anak wina berasal dari
keturunan anak perempuan atau yang disebut ata pe’ang.
Anak wina – anak rona muncul karena hubungan perkawinan, di mana pihak pria
disebut anak wina dan pihak perempuan disebut anak rona.
3. Ilmu Pengetahuan
Sejak dulu, orang Manggarai memiliki pengetahuan tentang alam sekitarnya, baik
fauna maupun flora dengan seluruh ekosistemnya. Sistem dan pola hidup
masyarakat Manggarai yang agraris mengharuskan mereka memiliki pengetahuan yang
cukup tentang flora, tentang tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi
kehidupannya.
Begitupun pengetahuan tentang fauna dimiliki secara turun temurun karena orang
Manggarai pada dasarnya senang beternak dan berburu.
4. Bahasa
Mengutip hasil penelitian Pastor P.J. Verheijen, SVD yang dilakukannya sebelum
1950 menyebutkan bahwa di Manggarai terdapat enam bahasa, yaitu bahasa Komodo
di pulau Komodo, bahasa Werana di Manggarai Tenggara, bahasa Rembong di Rembong
yang wilayahnya meluas ke Ngada Utara, bahasa Kempo di wilayah Kempo, bahasa
Rajong di wilayah Rajong dan bahasa Manggarai Kuku yang termasuk atas lima
kelompok dialeg, termasuk bahasa Manggarai Timur Jauh.
Pengelompokkan bahasa tersebut sekaligus mengisyaratkan secara umum kelompok
budaya di Manggarai yang erat kaitannya dengan corak kesatuan genealogis, sebab
kesatuan genealogis yang lebih besar di Manggarai adalah Wa’u (klen
patrilineal) dan perkawinan pun patrilokal. Dalam kesatuan genealogis inilah
bahasa terpelihara baik secara turun temurun.
5. Kesenian
Di Manggarai juga tumbuh dan berkembang berbagai jenis kesenian khas daerah ini
seperti seni sastra, musik, tari, lukis, disain dan kriya. Dari berbagai jenis
kesenian itu, ada dua jenis yang sudah mencapai tingkat sebuah peradaban dan
sudah dikenal luas, yakni seni pertunjukan caci dan seni rupa (kriya), songke.
Caci sudah merupakan puncak kebudayaan Manggarai yang unik dan sarat makna:
seni gerak (lomes), nilai etika (sopan santun), nilai estektika, muatan nilai
persatuan, ekspresi suka cita, nilai sportifitas, serta penanaman percaya diri.
Beberapa macam kesenian di Manggarai :
- Seni Musik
* Alat-alat musi tradisional : sunding, gong, gendang, tambor, tinding.
- Seni Tenun
* Tenun Songke
Seni kriya songke sarat dengan nilai dan simbol. Warna dasar hitam pada songke
melambangkan sebuah arti kebesaran dan keagungan orang Manggarai serta
kepasrahan bahwa semua manusia akhirnya akan kembali pada Yang Maha Kuasa.
Sedangkan aneka motif bunga pada kain songke mengandung banyak makna sesuai
motif itu sendiri seperti motif wela kawong bermakna interdependensi antara
manusia dengan alam sekitarnya.
Motif ranggong (laba-laba) bersimbol kejujuran dan kerja keras. Motif ju’i
(garis-garis batas) pertanda keberakhiran segala sesuatu, yaitu segala sesuatu
ada akhirnya, ada batasnya. Motif ntala (bintang) terkait dengan harapan yang
sering dikumandangkan dalam tudak, doa porong langkas haeng ntala, supaya
senantiasa tinggi sampai bintang.
Maksudnya, agar senantiasa sehat, umur panjang, dan memiliki ketinggian
pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup.
Motif wela runu (bunga runu), yang melambangkan sikap atau ethos bahwa orang
Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di
tengah-tengah kefanaan ini.
- Seni Sastra
Cerita-cerita rakyat.
- Seni Tari
* Ronda
Ronda adalah sebuah nyanyian yang dipakai sebagai nyanyian perarakan, misalnya
menjemput tamu baru.
* Sae
Sebuah tarian adat Manggarai untuk memeriahkan sebuah pesta. Misalnya dalam
upacara adat masyarakat yaitu upacara paki kaba dalam rangka congko lokap atau
menempatkan kampung baru.
* Sanda
Sebuah nyanyian, yang dinyanyikan oleh banyak orang dalam bentuk lingkaran.
Sanda sering dipakai dalam upacara menjelang pesta penti dan pesta adat
lainnya.
* Danding
* Wera
6. Sistem Mata Pencaharian atau Ekonomi
Aktivitas perekonomian atau mata pencaharian sudah sangat lama dikenal dalam
masyarakat Manggarai. Bahkan sepanjang usia peradaban yang dimilikinya, seusia
itu pula pengenalan masyarakat setempat terhadap kegiatan mencari nafkah,
berdagang atau bermata pencaharian.
Dalam bidang pertanian, sudah sangat lama dikenal pola perkebunan yang disebut
oleh masyarakat setempat dengan lingko (kebun komunal atau sistem pembagian
tanah pertanian yang disebut lodok).
Sama seperti halnya sub-sistem sosial yang lain, sub-sistem ekonomi dan mata
pencaharian orang Manggarai senantiasa melekat dengan nuansa-nuansa religi.
Pesta kebun adalah acara syukuran kepada mori jari dedek dan arwah nenek moyang
atas hasil padi dan jagung yang diperoleh. Begitu pula upacara penanaman benih
atau upacara silih yang dilakukan agar kebun atau ladang terhindarkan dari
berbagai hama penyakit yang mengganggu tanaman.
Seperti diketahui, masyarakat Manggarai pada umumnya adalah masyarakat agraris.
Secara turun temurun dua jenis tanaman andalan masyarakat adalah padi dan
jagung. Bahwa kemudian kopi mendapat tempat sebagai komoditas yang akrab dengan
orang Manggarai.
Sejak tahun 1938, pembukaan sawah dengan sistem irigasi sudah dikenal di
Manggarai. Semula sistem irigasi persawahan ini kurang diminati masyarakat
karena terasa asing. Tapi, setelah melihat hasil pekerjaan orang yang
mengerjakan jauh lebih baik dan menjanjikan, maka sistem irigasi pun secara
berangsur-angsur mulai ditiru dan kemudian malah menjadi kegiatan primadona.
Di samping mengerjakan sawah, berladang dan menanam kopi orang Manggarai juga
terkenal handal dalam beternak kerbau, sapi, kuda, babi, anjing, ayam, serta
melaut.
7. Teknologi
Masyarakat Manggarai di masa lalu sudah mengenal bahkan mampu menghasilkan
peralatan atau perkakas yang dibutuhkan untuk kehidupannya.
Secara tradisional, mereka sudah dapat membangun rumah.
Dalam hal pembuatan rumah, misalnya di Manggarai dikenal lima tahapan yang
sekaligus menggambarkan konstruksi segi lima. Konstruksi segi lima ini
berkaitan dengan latar belakang filosofis dan sosiologis. Angka ini memang
dipandang sebagai angka keramat karena secara kausalistis dihubungkan dengan
rempa lima (lima jari kaki), mosa lima (lima jari dalam ukuran pembagian kebun
komunal), sanda lima, wase lima, lampek lima.
Untuk pakaian, orang Manggarai sebelum mereka mengenal tenun ikat, bahan
pakaiannya terbuat dari kulit kayu cale (sejenis sukun).
Sementara untuk perhiasan sebelum mereka mengenal logam, perhiasan mereka
umumnya terbuat dari tempurung kelapa, kayu atau akar bahar.
Begitupun teknologi pembuatan minuman tradisional juga sudah dikenal cama di
masyarakat Manggarai, yakni proses pembuatan atau mencampur air enau dengan kulit
damer sehingga menghasilkan alkohol berkadar tinggi seperti arak atau tuak.
Masyarakat Manggarai sejak dulu juga sudah mengenal cara pembuatan obat-obatan
yang berasal dari daun-daunan, misalnya londek jembu yaitu pucuk daun jambu
untuk mengobati sakit perut, kayu sita, untuk pengombatan disentri.
Sebelum mengenal logam, untuk alat-alat pertanian, masyarakat Manggarai sudah
mengenal perkakas dari bambu, kayu atau tanah liat untuk mengolah tanah
pertanian. Sementara alat perburuan yang dikenal yakni bambu runcing, lidi
enau, tali ijuk.
Well, ini adalah salah satu postingan yang saya ambil dari salah satu blog. Tapi karena lupa meng-copy-paste alamat URL blognya, jadi maafkan saya ya karena mengambil materi ini dari blog anda. Apabila anda membaca postingan ini, tolong diisikan alamat asli URL blog anda yang membahas mengenai hal ini pada kolom komentar :). Sekali lagi maaf.
****
Roti Jerman biasanya terbuat dari gandum penuh
sehingga lebih keras rasanya jika dimakan. Serta dicampur ragi khusus yang agak
masam rasanya. Selain lebih keras, roti sini lebih mantap alias mengenyangkan
di dalam perut. Pantas jika dijadikan makanan pokok. Mereka kurang suka roti
tawar putih seperti umumnya roti di tanah air. Seorang teman menyebut roti
putih sebagai rati kapas. Sebab tak berasa kenyang ketika memakannya. Tak
mengenyangkan dan cepat membuat lapar lagi.
Di Jerman, jarang sekali kami temukan sebuah jalan
tanpa toko penjual roti. Murah dari toko murah hingga toko roti mewah. Mulai
yang kuno penampakannya hingga termodern sekalipun. Semuanya mudah ditemukan
dan dapat dipilih sesuai kemampuan kantong. Perkembangan terakhir adalah
munculnya swalayan roti di tempat-tempat strategis di pusat kota, seperti mall
atau stasiun. Harganya relatif murah, tapi pelayanannya minimal. Pembeli
mengambil nampan, memilih dari puluhan jenis roti yang dipajang, lalu langsung
membayar di kasir. Para turis mungkin akan lebih mudah untuk memilih maupun
mengetahui bahan kue bersangkutan dari display di depan wadah roti besar
mereka.
Meski di supermarket dan toserba juga tak kalah banyak
menjual berjenis roti, sebagian orang Jerman memilih membelinya di toko roti.
Untuk mendapatkan roti paling baru, langsung dari oven. Orang Jerman terkadang
menyempatkan diri berkonsultasi dengan penjaga toko, untuk mengetahui
jenis-jenis roti baru, roti dengan harga diskon di hari itu, dsb. Namun bagi
mereka yang baru datang ke Jerman, belum mengenal berjenis roti mereka dan
kesulitan mengeja nama-nama roti sini yang kadang aneh di lidah dan telinga,
belum lagi bingung memilih dari sekian banyak roti, mungkin akan merasa
kesulitan di sini. Selain roti, sebuah toko roti menjual jenis makanan lainnya.
Apa saja?
Pretzel lunak tersedia di hampir semua roti. Warnanya coklat
tua. Di Jerman namanya adalah Bretzel. Adonan bernama laugen juga dibuat roti
bulat atau baguette. Kami suka bretzel isi irisan keju.
Kue black forest tak hanya menjadi stereotip Jerman. Dia diciptakan
untuk membuat orang bahagia. Orang suka memesannya untuk teman minum teh atau
kopi di sore hari. Kenikmatan kue ini akan berbaur dengan harum kopi.
Stollen, roti manis, sering dibuat dengan campuran buah
kering atau manisan buah, adalah tradisi di hari natal. Di bulan Desember,
stollen di jual di mana-mana. Toko-toko roti, super market, swalayan dan pasar
natal.
Vanillekipferl, roti kering rasa vanila berbentuk bulan sabit, juga
merupakan makanan favorit di kala natal. Orang bisa membelinya di toko roti di
musim natal, meski katanya buatan sendiri adalah yang terenak.
Roti bulat putih, alias broetchen di sebagian
besar, di daerah selatan disebut semmel - adalah roti umum untuk sarapan. Dia
biaa dihidangkan dengan bermacam tambahan. Asin seperti potongan keju, sayuran,
atau acar. Atau manis, dengan tambahan selai, madu atau krim coklat.