Senin, 12 Agustus 2019

Review Hate First, Love You Later - Nimas Disri






Hate First, Love You Later
“Karena aku tahu, jalan pulang itu rindu, dan rumahku tetap kamu”
Nimas Disri
Gagas Media
2019
Rp 88.000 (harga P. Jawa)

*
*

“Gwen, ke ruangan saya!”
“Gwen, beresin laporan hari ini juga!”
“Gwen, nanti ikut saya meeting!”
“Gwen, besok pagi ikut saya ke Surabaya ketemu klien!”

Setiap mendengar suara perintah itu, pasti ada kesal yang dirasakan Gwen. Punya bos yang suka memerintah dan nggak mengerti perasaan karyawannya itu bikin makan hati. Gwen merasakannya setiap hari. Dia pun heran, kenapa selalu dia yang ditugaskan untuk berhadapan dengan Bara. Arrrggghhh!

Namun, belakangan Bara sering menghampiri Gwen yang sedang menunggu ojek online, lalu menawarkan pulang bareng. Apa yang sebenarnya terjadi? Gwen pun bingung. Semakin Gwen berusaha menjauh, Bara malah memberinya tugas yang mengharuskan mereka berdua bertemu. Kenapa sih sebenarnya bos gue ini? Pertanyaan yang berusaha Gwen cari tahu jawabannya.
.
.
Itu blurb untuk kisah Gwen dan Bara.
Hate First, Love You Later adalah karya dari Nimas Disri yang menceritakan tentang kisah Gwen dan Bara.
Dari blurb dapat terlihat bahwa kisah keduanya ini termasuk dalam office romance. Itu yang pertama kali aku tangkap ketika membaca blurbnya.
Buku ini berkisah tentang Gwen Paradista yang menjadi salah satu karyawan swasta di sebuah perusahaan ecommerce sebagai business development di salah satu start up terkemuka yang menyediakan tiket untuk berbagai event.
Bos di kantor Gwen adalah Bara Dhananjaya. Bos rese galak yang selalu memberi lembur dan menyuruh Gwen untuk cepat menyelesaikan tugas-tugas kantornya.
Bos yang hanya galak kepadanya.
Bos yang beberapa kali menangkap basah ketika Gwen dan Andin sedang bergosip tentang Bara.
Selain interaksi Gwen dan Bara. Ada juga interaksi Gwen dengan dua sahabatnya, Andin dan Syila. Dua sahabat yang selalu ada untuk Gwen. Dua sahabat yang menjadi tim lambe turahnya ketika menggosipkan Bara.
Lalu interaksi antara Gwen dan Reno, seseorang yang amat sangat berarti dalam hidup Bara. Yang membawa Gwen kepada sisi lain seorang bos galak seperti Bara.
.
.
“Kalau bisa tatap muka sama klien, kenapa harus by whatsapp?
Whatsapp itu diciptakan utnuk memudahkan pekerjaan, bukan menjadi media utama komunikasi dengan sesama manusia. Komunikasi utama tetaplah bertatap muka”
.
.


Ada beberapa hal yang aku suka dari buku ini.

  • Cover

Warnanya, font hurufnya dan name tag sebagai identitas bahwa buku ini punya setting tentang dunia kerja

  • Dialog

Ya. Dialog-dialog dengan bahasa keseharian yang mudah dicerna.

  • Narasi

Penulis menyajikan narasi yang enak untuk diikutin. Walau dibeberapa bagian ada hal-hal yang sedikit mengganjal karena punya olahan kalimat yang diulang.

  • Tokoh

Interaksi antar tokohnya. Terutama interaksi Gwen dan dua sahabatnya, Andin dan Syila.
Untuk interaksi Gwen dan Bara sendiri ada di beberapa bab yang rasanya terlalu dipaksakan untuk ada.
  • Quote
Ada beberapa quote yang pas dengan keadaan saat ini
.
.
“Ternyata bahagia itu tak semuanya harus ditunggu. Mengejar mungkin sebuah pilihan untuk tak terlalu lama mengubur rindu dan menjadikan itu bahagiamu.”
.
.
Lalu apa yang aku harapkan dari buku ini:
Interaksi tokoh utama yang perlu lebih diperdalam. Kekonsistenan sikap keduanya. Di pertengahan buku, baik sikap Gwen ataupun Bara mulai goyah karena interaksi mereka yang semakin intens.
Bara yang galak terhadap Gwen mulai menunjukkan sikap merajuk yang membuat Gwen sering memandangnya tak mengerti.
Begitupun dengan Gwen yang mendadak luluh dengan apa yang dilakukan oleh Bara.
.
.
“Senja mungkin tak akan pernah seindah ini jika bukan dengan manusia yang tepat. Senja tak selalu berarti warna jingga yang membuat hati menghangat. Namun, senja akan tetap kembali ke peraduan walau tak selalu menyisakan senyuman.”
.
.
Lalu apa yang pembaca perlu tahu tentang buku ini:
1.     Konflik yang disajikan
2.     Interaksi antara Gwen – Bara, Gwen – Reno, Gwen-Andin-Syila, Gwen – Aryo.
3.     Load pekerjaan yang dihadapi Gwen yang menyebabkan dia harus selalu berinteraksi danmenjadi begitu kesal dengan apa saja yang berhubungan dengan Bara.
.
.
Secara keseluruhan aku suka dengan cerita yang disajikan. Walau ada dibeberapa bagian yang masih mengganjal. Tapi interaksi antar tokoh dan dialog yang dituliskan jadi hiburan sendiri untuk aku yang sedang reading slump.
Sejak pertama kali buku ini datang aku langsung baca dan selesai dalam 2 hari. Lalu karena jadwal reviewnya ternyata baru dapat di bulan Agustus ini, aku re-read untuk kembali mengingat kisah Gwen dan Bara ini :’)
Karena jujur saja, agak lupa. Bahaya kalau review tapi nggak memahami isinya dengan benar .-.

.
.

“Perpisahan itu tidak pernah indah, tetapi itu yang harus dihadapi. Berpisah bukan berarti berperang. Berpisah banyak mengajarkan menjadi dewasa dengan cara-cara yang tak terduga. Perpisahan bukan tentang penyesalan, melainkan penerimaan untuk terus dijadikan pelajaran.”

Sabtu, 23 Juni 2018

Review Too Good for You by Adeliany Azfar

Too Good For You
Adeliany Azfar
Elexmedia
2018
.
.
⌨ 📖 BLURB 📖 ⌨
.
Zee bukanlah Putri Salju atau Putri Tidur yang ingin didatangi seorang pangeran, dan bimsalabim, hidup bahagia selamanya. Dia hanya seorang karyawan biasa, yang tiba-tiba harus menjadi goshwriter untuk seorang pengusaha muda dan -mari kita sederhanakan- salah satu putra dari pria terkaya di Indonesia. Lelaki itu Kevlar Pramoedia.
.
Oh, ya, ya, benar, poin Kevlar sudah pasti 10 di mata Zee. Berapa lagi angka yang bisa diberikan untuk lelaki supertampan, jangkung, dan karismatik yang selalu mengenakan setelan mahal itu? Tapi tunggu sampai Kevlar berbicara. Poinnya berkurang jadi 9. Ugh, otaknya tidak sematang penampilannya.
.
Dan, hei, apa-apaan dia? Sifat Kevlar yang pemaksa membuat poinnya turun ke angka 8,5. Tapi ... bagaimana kalau naik lagi setengah poin karena Kevlar memaksa menciumnya?
.
Uhm, ya, berat untuk mengakui, tapi poin untuk ciumannya - yang tidak boleh diganggu gugat itu - Zee dengan yakin memberinya poin sempurna.
.
.
Kev itu dimata Zee memiliki aroma maskulin perpaduan citrus, woody dan black pepper.
.
Sedangkan Zee itu dimata Kev memiliki aroma sederhana. Perpaduan bedak, cologne bayi dan juga minyak telon.
.
.
Zee mendapat perintah langsung dari Pak Bos untuk menangani penulisan buku biografi dari salah satu anak Kardi Pramoedia.
.
Maka, perintah langsung dari Pak Bos itu memunculkan kecurigaan bagi Zee. Karena Pak Bos tak pernah memerintahkan tanpa pembicaraan dengan Mbak  Dina.
.
Siang itu, dengan ditemani Rino, Zee pergi ke Classified tempat janjian dengan salah satu anak Kardi Pramoedia itu.
.
.
45 menit mereka berdua menunggu tanpa ada kabar dari seseorang itu.
.
.
Lalu, penantian lama itu berbuah keterpanaan dari sisi Zee. .
Lelaki yang diduga pangeran Pramoedia itu hanya berjarak dua langkah dari mejanya.
.
.
Dia merupakan gambaran sempurna dari penampilan seorang lelaki idaman : potongan rambut rapi, wajah bersih, jangkun dan lihat saja setelan jas yang dikenakannya.
Belum lagi rupanya, Zee harus menggarisbawahi bagian ini sambil menjedukkan kepala ke meja : lelaki itu sangat tampan. Memukau. Dan berkarisma.
.
.
Dia adalah Kevlar Pramoedia
.
.
🍀 Kevlar dimata Zeeta 🍀
.
Zee tak pernah tahu bahwa perintah Pak Bos untuk menjadi ghostwriter seorang Kevlar Pramoedia membuatnya merasakan kepakan sayap kupu-kupu di perutnya dan perasaan mendebar yang lain. Selama ini Zee hanya tahu bahwa perasaan itu hanya ada dalam novel-novel roman yang dibacanya.
Nyatanya. Berkenalan dan berhubungan jauh dengan Kev membuat Zee tahu rasanya.
.
.
Pertemuan pertama mereka sudah menciptakan image Kev yang turun beberapa poin di mata Zee. Sifat memaksanya dan jawaban-jawaban melantur yang keluar dari mulut Kev lah menjadi penyebabnya.
.
Tapi, semuanya perlahan berubah seiring meningkatnya intensitas komunikasi dan pertemua mereka.
.
Percakapan tentang Frank Sinatra, pemberian CD-nya, ungkapan dan pandangan Kev untuk Zee yang senang sekali membaca, janji untuk meninjau langsung proyek yang sedang dikerjakan perusahaan Kev, Zee yang terpeleset di tanah becek karena tanpa sadar terpesona dengan Kev yang sedang membuka helm proyek, dengan rambut berantakan dan basah oleh keringat. Kemampuan memasak Kev. Dan semua pesona lain dari Kev berhasil membawa Zee jauh melayang.
.
.
Tapi semua perlahan berhasil menyentak Zee kembali ke kenyataan. Tindakan Kev yang meninggalkannya di pesta Opa Pramoedia untuk mengobrol dengan Tamara -calon istri masa depan Kev dimata Zee- berhasil membuatnya cemburu dan menimbulkan konflik keduanya.
.
Perasaan marah itu. Kecewa sekaligus sedih dan ciuman yang dilakukan Kev malam itu membuat Zee menjadi gelisah. Kenyataan soal status sosial mereka tak pernah bisa dilupakan.
.
Kevlar Pramoedia. 33 tahun. Arsitek lulusan Southern California Institute of Architecture. Pemaksa. Pintar masak, melukis dan hal lainnya membuat hidup seorang Zeeta seperti berada di atas roller coaster.
.
Pesona Kev terlalu silau dan membuat segala hal dalam kepala Zee secara tak sadar selalu mengenangnya setiap waktu.
.
.
🍃 Zeeta dimata Kevlar 🍃
.
.
Kev pertama kali bersitatap dengan Zee saat menghadiri acara pernikahan salah satu kliennya.
Malam itu, Kev terpesona pada pandangan pertama saat melihat Zee. Perempuan itu bergaun hitam yang tampak cantik dalam kesederhanananya. Wajahnya dipulas make-up tipis, tidak berlebihan. Pas. Elegan. Manis. Cantik. Dan matanya berwarna cokelat.
.
.
Saat tahu bahwa Zee bekerja di sebuah perusahaan penerbitan, Kev mendapatkan ide untuk mendekati perempuan itu setelah mendapatkan penolakan telak ketika mengajak berkenalan.
.
.
Maka dimulailah misinya. Ia berkeinginan untuk menerbitkan buku biografinya yang berisi tentang kehidupan profesional pekerjaannya.
Dengan semua biaya cetak dan lainnya ia yang menanggung. Dan Kev hanya ingin Zee yang menjadi penulis untuk bukunya.
.
.
Zee adalah seorang Redaktur Pelaksana pada salah satu imprint Media Kata, sebuah grup penerbit yang menangani buku nonfiksi.
.
.
Selalu mengenakan kaos kebesaran dan celana jeans dan rambut dikuncir biasa aja.
.
Kev selalu terpesona. Zee dalam keadaan sederhana saja ia terpesona begitu dalam, apalagi ketika Zee berdandan cantik khusus untuk menemaninya menghadiri acara ulang tahun Opa Pramoedia.
.
Tapi, lewat acara itu pulalah segala hal menjadi berantakan. Komunikasi mereka yang lancar menjadi tak lagi menemani malam masing-masing. Pertemuan-pertemuan mereka untuk membahas buku juga tak lagi ada.
.
Load pekerjaan yang sedang banyak-banyaknya dan keputusan Kev untuk memberi waktu berpikir pada Zee tentang perasaan mereka malah memberi boomerang sendiri untuk hatinya.
.
.
Intinya. Kev akan selalu terpesona pada Zee. Baik lewat penampilan sederhana perempuan itu atau lewat kepribadian supelnya atau lewat hobi membaca bukunya.

Membingungkan

Kacau. Membingungkan. Semuanya membingungkan. Iya. Aku menghadapinya jadi bingung sendiri. Nggak serta merta merasa senang diber...